Sedikit Ada

Aku mendapati matanya berbinar, khusuk dalam cerita. Seperti ketika ia masuk menemui aku pada masa tuanya, melalui cerobong asap rumah yang masih hangat, yang asapnya baru saja habis pelan-pelan. Bersamaan saat itu, aku melihatnya kotor berdebu hangus tanpa ada sebagian darinya tersisa. Abu-abu menempel pada seluruh badannya menjadikannya hitam–juga menyibak sisa legam yang bersarang pada punggungnya. Punggung yang selalu siap kusentuh pada akhir pertemuan, menyebabkan rasa rindu sedari Senin sampai Sabtu. Sebab Minggu adalah hari dimana aku bisa mendapatinya dirasaku.

Minggu adalah hari terakhir yang siap menyerangku, mengoyak setiap kabar yang bisa saja tak kuterima, yang setiap luruhnya matahari selalu kutunggu. Ia tersenyum kala habis waktu meraup ku—sampai jiwa dan pikiranku tak bersisa. Selalu begitu, selalu kudambakan di hari luang, meskipun tiada, selalu akan ku sempatkan. Kemudian aku harap peduli itu hilang, tentang bagaimana rupaku di dunianya, pun pada milikku. Sebab punya apa aku? Tidak, ada, kan? Semuanya kuserahkan pada ketulusan yang mungkin saja habis masanya, yang diam-diam akan hancur tanpa kuketahui.

Advertisements

Mono-Lana

Tuhan sedang lalai
Ia lupa membisikmu dengan santai
Cabang-cabang itu dari setan, sayang
Meski ingatan tua ialah kisruh damai

Aku memang kental dengan ego
Kamu apalagi, padat oleh daya diri
Tengok-tengok lenguh beribu kilo
Hilang sadar telah lelah terpuasi

Kamu pikir aku sudi?
Ya,
harus ku pikir-pikir.

Puan Kelana

Jingga pada sore Kelana,
pelan lelap melahap hari
yang sulit lepas dari aktivitas
Bulan sapa Kelana di jalanan
Hinggap sana hinggap sini
Ketuk saja dengan halus, siapa tahu ia tersentuh
Debam nadi terdengar sampai kelu hati
mungkin untuk kamu
Langkah Kelana meraba tujuan,
meski ada
mati rasa

Tangan Tuhan ikut campur
Bibirnya dekat dengan telinga
Semakin dekat, semakin lekat

akhir indah bukanlah kehidupan yang baru, Kelana.

Sabda sajak pada sesiapa yang rasa
Gelas-gelas kopi baurkan kita
Gelintir lelah hilang sudah
Padahal bicara tiada tentu arah

Tapi aku tidak percaya
Kasih yang datang begitu saja
Ada celutasan asing jelma lalai takdir yang pasrah
Aku masih sama, kamu juga tebar pesona