Rangkuman

Untuk sementara saja, bisikku pelan pada aku yang sedang tenang. Sementara aku sibuk dengan diriku yang berusia 25 tahun, memikirkan apa yang akan terjadi, menebak-nebak bagaimana aku pada lima tahun kedepan.

Tulisan ini akan membawa pembaca kepada harapan-harapan apa yang membuatku mungkin akan tetap hidup sampai lima tahun selanjutnya.

Menapaki setapak jalanan yang terus menerus tidak ada ujungnya. Seperti pada saat umurku tiga tahun, menjadi seorang kakak adalah sesuatu yang baru untukku. Memiliki adik lelaki yang baru lahir, bukan menjadi hal menyenangkan. Minimnya pengalaman untuk menyayangi seorang anak yang umurnya agak jauh dariku sungguh menyulitkan, menyakitkan malah. Ini mungkin menjadi hal yang biasa untuk orang lain. Saat itu aku belum tahu yang harus kulakukan adalah bersikap baik demi hasil akhir menjadi panutan untuk anak bayi berisik itu. Dewasa belum kutemukan dalam hidup, yang aku pahami hanya apapun yang menyenangkan; termasuk anak kecil lelaki itu yang terpaksa jadi mainan.

Begitu aku berusia enam tahun, adik keduaku lahir. Kali ini mahluk kecil yang keluar dari perut ibuku berkelamin perempuan. Saat itu juga, ada perasaan bahagia yang tidak bisa kujelaskan. Rasa itu begitu aneh, begitu tidak terdeskripsikan. Mungkin akan aneh rasanya harus berbagi apa yang kupunya untuknya. Mungkin akan sulit untuk lagi-lagi harus menjadi sesosok manusia yang mengayomi. Hal itu tidak melulu berjalan baik. Alih-alih menyayangi, yang kulakukan malah membuat mereka harus membenciku. Tapi aku menyayangi mereka, hanya saja dua mahluk kerdil itu begitu berisik tak tahu tempat.

Membuat ulah adalah kiprahku selama beranjak remaja. Harus ku jelaskan sedikit, orang tuaku sangat rumit. Tidak ada sedikit pujian yang kudapat saat-saat itu. Tidak ada obrolan berarti yang membuatku merasa dekat dengan mereka, pun dengan kedua adikku. Tetapi saat aku melakukan kesalahan, hal itu menjadi alasan badanku biru-biru dengan luka yang perih ketika terkena air. Aku kurang paham, mungkin hal itu yang membuatku senang menyendiri tanpa berinteraksi dengan sekumpulan manusia pada kungkungan tembok yang sama. Alasan ini menjadi pilihanku untuk mengisi tenaga. Mungkin sampai sekarang orang tuaku tidak tahu bagaimana aku sangat bersemangat ketika berada di luar rumah. Mungkin sampai sekarang mereka tidak tahu bagaimana menyenangkannya aku diantara teman-teman sebayaku. Untuk hal-hal menyenangkan itu, aku menjadikannya reward untuk diriku sendiri. Ini adalah pakem dasar yang secara tidak langsung; kesendirian bukanlah kesenanganku.

Kerumitan diriku mulai terasa. Ada dampak yang pada akhirnya tidak kuinginkan. Menjadi pusat perhatian untuk mendapatkan apa yang aku mau; perhatian. Menjadi seorang anak yang membangkang mungkin bukan pilihan, sedangkan saat itu aku tidak pernah mendapatkan pilihan. Iya, aku tahu paragraf ini memiliki banyak pengulangan kata. Nikmati saja selama kau sanggup.

Remajaku kuhabiskan dengan bermain tanpa ada jeda untuk memikirkan nasib setahun dua tahun sepuluh tahun kemudian. Bagiku, hidup akan terus mengalir tanpa atau terencana sekalipun. Sedangkan kepala keluarga di rumahku selalu mengingatkan bagaimana jadinya ketika kau tidak punya rencana dalam hidup. Aku hanya ingin hidup. Begitu saja. Sangat sederhana yang beberapa tahun kebelakang kusadari; kesederhanaan adalah sebuah hal yang rumit. Bukan begitu?

Seperti remaja pada umumnya, emosiku meledak-ledak. Perjalanan itu kuhabiskan dengan banyak bertengkar dengan semua manusia. Banyak barang yang kuhancurkan, banyak emosi buruk yang berakhir dengan penyesalan. Aku begitu menggebu-gebu, begitu tidak terkontrol. Titik terparahku ada pada saat kedua orang tuaku memutuskan untuk berpisah.

Aku ingat betul kejadiannya. Hanya saja belum bisa kutuliskan semua disini. Intinya, pagi itu semua barang di -yang katanya- rumahku menjadi berantakan, perabotan di dalamnya hancur hampir tidak bersisa. Ini terjadi setelah ibuku memberontak untuk dirinya yang pasti merasa kelelahan dan kewalahan. Aku tahu sekarang bagaimana rasanya menyimpan kesakitan menahun untuk diri sendiri. Pagi itu, lelaki yang mengahncurkan hampir seisi rumah, menghampiriku dan bertanya, ‘kamu mau ikut papa, atau mama?’ suaranya begitu tenang, begitu jauh dari hingar bingar luapan emosi sebelumnya. Saat menulis ini, aku tahu ia memang selalu pandai untuk menyembunyikan apapun yang ia rasa; kecuali emosi negatif.

Terakhir yang kuingat, semua menjadi luka basah yang hingga saat ini -mungkin lebih dari sepuluh tahun berlalu- masih seperti itu bentuknya. Emosiku masih meledak-ledak sampai mungkin usia akhir remaja. Saat itu aku mendengar banyak sekali ujaran kebencian dari seorang wanita paruh baya untuk mantan suaminya. Membuatku juga ikut membenci orang itu. Tapi yang paling wahid adalah aku membenci kehidupanku.

—–

Paragraf yang banyak di atas masih menjadi kalimat pembuka dari apa yang ingin kutulis.

Usiaku sekarang dua puluh lima tahun. Sempat berpacaran dengan 13 lelaki. Empat kali kembali pada satu orang yang sama. Sekali berhubungan paling lama, selama dua setengah tahun. Terakhir kali selesai, masalah jarak dengan alasan ekspetasi.

Bernapas adalah kebahagiaanku sekarang. Sekedar melanjutkan hidup dengan beberapa pikiran tentang apa yang akan terjadi pada lima tahun kedepan. Pertanyaan-pertanyaan yang terus menggantung, perasaan-perasaan yang sulit sekali dicerna. Menebak-nebak perasaan orang lain, bermain dengan waktu dan kekuatan emosional sendiri.

Kelemahanku adalah menjaga privasi sendiri ketika berhubungan dengan pasanganku. Atau itu adalah kelebihan? Sementara ada yang bilang, saat usiamu masih dua puluhan, jangan menyia-nyiakan waktu dengan berhubungan dengan orang lain. Mungkin benar. Aku masih bimbang dengan ide itu.

Dua puluh lima tahun hidup tanpa mempertimbangkan apa yang akan kau lalui adalah sesuatu yang gila. Setidaknya aku pikir seperti itu.

Advertisements

Pagi, Manis

Dibelai waktu, meringkuk dalam umur hari yang terlalu. Pada hari ini sesungguhnya aku tahu, mengapa ada lembar surat yang ditulis. Sampaikan pesan tandakan bahaya. Benar. Bahaya. Banyak yang sudah dilewati. Nektarnya sudah kuhisap sampai habis, bersisa, tapi tak banyak. Sabar-sabar memang obat, tapi tetap bukan untuk menyembuhkan. Jangan tanya kenapa, sebab rasa sendiri olehmu. Begitu juga aku, alaminya sendirian, dibuatnya senandungkan semoga dan ucap-ucap harap. Dukanya ada diamini si nganga luka. Coba ubah, tapi jangan ketahuan, ia lebih suka manipulasi, bukan perintah sana-sini. Aku bukan ragu, hanya saja banyak tentang yang bertentang, tidak baik untuk terus dikembangkan. Memang kagum adalah kenyamanan paling awal, lalu kasih terasa nyata setelahnya. Jangan melawan, angguk saja, ia memang rupawan, seksi buat kamu melayang. Itu sangat lumrah, aku rasakan nikmatnya. Sekonyong-konyong permainan dawai pada kulit yang bersentuh. Coba saja nanti, kamu akan rasa pula. Nikmati saja nanti, sisa dariku.

Merunduk matahari pagi ini. Aku sudahi saja. Kelewat senang menulisnya, kelewat ngantuk pula aku sekarang. Nanti setelah terbangun dari tidur yang biasa, akan kulanjutkan lagi.

Kentang

Eh dunia lucu sekali memang, selalu seperti itu. Kopi moka ku habis, tetapi cokelatnya masih rehat pada bibir. Aku ingin berimu selamat, telah sampai ditujuan tanpa duka luka yang gemuk nan sehat. Mengoyak dayung yang kayuhnya sebentar lagi akhir. Eh buaya datang, ketika itu menyelamatkanmu adalah misiku. Perahu itu perlu ku jaga sampai disapa daratan. Sekarang lamunku, harusnya kubiarkan saja kau mati di telaga itu. Dimakan buaya dan dicabik-cabik perasaan bersalah. Jiwamu tak tenang mauku sampai selamanya. Mampus kau mati tanpa pernah ucap sesal, matimu sungguh kesal. Tapi aku tidak iba, malah senang, mau pesan teh lemon sekarang.

Tiada Usai Hari Ini

Sejak pagi sudah dijejal ingin teramat besar. Jangan bayangkan besar apa. Tapi hanya gemuruh kian rusuh coba usik damai nyanyian burung sampai aku gusar. Coba kembali sebab tanggung ini menggunung, pintanya dengan jahitan kata-kata. Aku sudah terlalu luka, menutupnya butuh bantuan tanpa cela. Diam saja, sih tidak perlu diungkap. Ulangi lagi sekian kali, aku kalut lelah dipadati arti-arti. Pagi tidak juga ganti cuma itu risauku hari ini, atau lepehkan saja ludah itu dari langit biar lawanku tak lagi sengit. Ah yaampun, otakku digerogoti waktu.

Tiada siang, sore apalagi malam yang datang. Simpulkan saja olehku, usai masih jauh dari hilal. Cepat pamit, aku mual kau bertandang.