Kentang

Eh dunia lucu sekali memang, selalu seperti itu. Kopi moka ku habis, tetapi cokelatnya masih rehat pada bibir. Aku ingin berimu selamat, telah sampai ditujuan tanpa duka luka yang gemuk nan sehat. Mengoyak dayung yang kayuhnya sebentar lagi akhir. Eh buaya datang, ketika itu menyelamatkanmu adalah misiku. Perahu itu perlu ku jaga sampai disapa daratan. Sekarang lamunku, harusnya kubiarkan saja kau mati di telaga itu. Dimakan buaya dan dicabik-cabik perasaan bersalah. Jiwamu tak tenang mauku sampai selamanya. Mampus kau mati tanpa pernah ucap sesal, matimu sungguh kesal. Tapi aku tidak iba, malah senang, mau pesan teh lemon sekarang.

Advertisements

Sedang Bermimpi

Aku ingin merampasmu dari dunia yang sebentar ini. Memulai kegiatan penuh seharian buatmu lupa hingga aku yang kau ingin.

Ya tapi aku tidak bisa sih, lampu jalan masih teramat terang juga bulan merah meradang. Panas dingin tetap harus sabar padahal mauku menendang-nendang. Sebab akan ketahuan jika aku lantang berdendang.

Tiada Usai Hari Ini

Sejak pagi sudah dijejal ingin teramat besar. Jangan bayangkan besar apa. Tapi hanya gemuruh kian rusuh coba usik damai nyanyian burung sampai aku gusar. Coba kembali sebab tanggung ini menggunung, pintanya dengan jahitan kata-kata. Aku sudah terlalu luka, menutupnya butuh bantuan tanpa cela. Diam saja, sih tidak perlu diungkap. Ulangi lagi sekian kali, aku kalut lelah dipadati arti-arti. Pagi tidak juga ganti cuma itu risauku hari ini, atau lepehkan saja ludah itu dari langit biar lawanku tak lagi sengit. Ah yaampun, otakku digerogoti waktu.

Tiada siang, sore apalagi malam yang datang. Simpulkan saja olehku, usai masih jauh dari hilal. Cepat pamit, aku mual kau bertandang.

Amini

Ada yang menyepi yaitu malam ketika tubuhmu dan udara menjelma satu ritme dengan dekap

Ada yang memanja yaitu aku disetiap waktu luang segala cipta iseng tanpa sekat

Ada yang merekah yaitu kembang malu di sela dingin pada puncak tirai-tirai bersingkap

Pagi itu ayu sekali senyum juga jemari pada dawai, pandang yang baru terbuka setelah aroma telur dadar lekat, rekat.

Jadi, Bagaimana?

/1/
Ada tanda sebelum makna, jadi kapapun siapa bisa tahan?
Terimakasih hanya ada dalam dongeng, tak perlu diusik
Kepada orangku dan bayang-bayang seharian
Kepada suara memoar yang tiada lagi bisa berbisik

/2/
Tukang parkir memandu dengan gerak
Aku memarkir dengan congkak
Tenang saja, tidak terjadi sesuatu, hanya luka-luka kecil pada bahu
Tak apa, ujarku sendiri
Tapi ia jauh dari tidak
/3/
Kau harus tau bagaimana mimpi dan harap bisa menguap, kemudian turun lagi tanpa sisa kesan
Menunggu memang bukan aku, bukan pula kau yang mau
Tapi pasir-pasir ini tak kembali menjadi pasir, kan? Tanyamu

/4/
Jawab hanya gelintir masuk akal
Tumbuh berarti mengeluh
Erat genggaman hanya untuk bekas
Jangan disangkal, kita memamang bebal, iba bisa dicekal
Lantas bagaimana celutas itu retas?

/5/
Pertanyaan-pertanyaan tentang masa depan
Lepas dulu kepalaku, ia terbang melayang-layang
Layani segala apa yang biasa
Kau parnoi silakan
Aku nanti saja.

Kuasa

Sejak pendar itu meradang, keluh kesah menjadi biasa
Turut datang! Turut datang! Sanksi memenja ingin empati
Bukan lagi peluh yang ada, merpati tak bersuara
Getar jari ketikan pilu, khusuk pinta upeti

Pita dipotong, pinta belas kasih pada tertodong
Ulah biasa kau saji
panas hari ini sulit diganti
Pecut saja kepalanya!
Burai-burai pikiran telanjang penuh di jalan