Tidak lagi.

Menerus aku tampik kau yang pura-pura polos bukan untuk hindari tikai hanya pusing kerap datang jika kau tampakkan wajah gagah itu, yang dulu tiada segan untuk mampir dan membuatku haru biru. Sebab luka-luka itu sulit sekali hilang, terus menerus lalu lalang. Oh, aku sungguh malang.

Advertisements

Jalang

Jangan hidupi aku dengan sederhana, sebab langit mencipta hujan sungguh kesulitan
Aku ini wanita jalang,
bisa buat kau senang
pun yang lain kubikin malang

Jangan masuk mengendap-endap, kucing saja aku tahu jika menatap
Jengah ada dihadap
Kau pulang sudah siap kudap
Hanya mampir basah sedap

Jangan lupa aku ini wanita jalang!

Rindu Kata-kata

Sialan!
Malam ini aku merindu
Padahal jelas sekali aku bosan
Tapi rasanya beda
Entah mengapa

Sosoknya tak pernah kutemui
Hanya berlindung pada kata-kata
layar kaca
Tapi kenapa
aku bisa rindu?

Rasanya terpacu untuk merindu
Dalam malam yang malu-mau
Tapi aku mau
Aku rindu

Aku Membunuhnya

Pelan-pelan aku membunuhnya
Lelaki yang kukenal belum lama
Aku menyeringai, menyerupai kekasihnya
Dalam bentuk paling sempurna, tentunya

Lalu aku bermain-main dengannya
Tidak lupa ku beri mantra sedernaha
Agar ia tak ingat apa-apa

Pelan-pelan aku membunuhnya
Dalam nyanyian yang tiada merdu jika didengar
Tiada indah jika dibayangkan
Tiada nada jika dinalar

Pelan-pelan membunuhnya,
Dengan pelbagai bisikan dari kekasihnya

Sedang Ingin

Aku sedang ingin bercumbu, diantara rerumputan yang berembun

Dipacu waktu, sebab ingin sejak lama

Ingin yang dihadirkan, jua dihardik-hardik

Tidak bernorma katanya

Namun, tak apakah terlanjur?

Pelan-pelan angin menegur, tirai itu tersibak

Bidang berbentuk tembok menyeringai

Aku pasrah sudah

Lalu basah

Sekali lagi kain itu tersibak

Lalu diam,

Diam-diam kami merayakannya.

Berduka

Mungkinkah aku hanya menyimpanmu sebagai luka? Sebab tuan sudah bersama nona manis itu. Benarkah tuan, dunia ini hanya inginkan ku menyerah? Sebab tiada lagi yang harus kupertahankan. Bagaimana jika aku masih saja pada tempat yang sama? Sebab, aku masih penuh dengan penyangkalan.

Tuan, aku masih berduka.

Pada taman kota yang cerah,

Aku tiada tergugah

Untuk beranjak.

Sebab tuan, aku masih berduka.