Bingung

Hingga hembus angin lalu ratap sayu tersaji hangat
Dijamah tidak mau, imingi-imingi dolar malu-malu
Rayap merayap sentuh nadi
Lebih nikmat makanan basi
Pilihan tiada lain, jika diam sesal akhirat
Jika mau khidmat terlalu

Advertisements

Aku akan Mengujungimu

Diantara terang bulan dan fajar, mungkin aku akan mengunjungimu
Untuk sekedar bertukar sapa atau hanya berdiam saja
Dan bukankah diam adalah bahasa paling manis setelah perpisahan?
Lalu aku akan terpaku melihatmu yang kian memendar cahayanya

Tuanku
Adakah aku masih berjaya pada dadamu itu?
Yang degubnya selalu ku rindu, yang rengkuhnya selalu ku sapa

Tuanku
Dari dadaku yang paling damai,
tidakkah kau merindu masa-masa itu?

Aku Membunuhnya

Pelan-pelan aku membunuhnya
Lelaki yang kukenal belum lama
Aku menyeringai, menyerupai kekasihnya
Dalam bentuk paling sempurna, tentunya

Lalu aku bermain-main dengannya
Tidak lupa ku beri mantra sedernaha
Agar ia tak ingat apa-apa

Pelan-pelan aku membunuhnya
Dalam nyanyian yang tiada merdu jika didengar
Tiada indah jika dibayangkan
Tiada nada jika dinalar

Pelan-pelan membunuhnya,
Dengan pelbagai bisikan dari kekasihnya