EH.

Eh,
Mata itu
Tatapnya tajam
Teduh pula

 

Eh,
Jabat tangan itu
Sudah siap buat akhir
Ya getir

 

Eh,
Masuk aku dalam dekap
Seperti di sekap
Enggan ku singkap

Advertisements

Sleeping in Nowhere 

I dreamt about moon
Somewhere between ocean and the sky
The swish of the wind so calming
My head swirl with the waves

I’m so far away from my consciousness
The dream pull me away
Reality on my back, I can not reach
The voices of people killing me

I dreamt about moon
So bright so comfort,
I opened my eyes

I slept under the lamppost
Somewhere in between street and the sky

EA/SK

Sedang Ingin

Aku sedang ingin bercumbu, diantara rerumputan yang berembun

Dipacu waktu, sebab ingin sejak lama

Ingin yang dihadirkan, jua dihardik-hardik

Tidak bernorma katanya

Namun, tak apakah terlanjur?

Pelan-pelan angin menegur, tirai itu tersibak

Bidang berbentuk tembok menyeringai

Aku pasrah sudah

Lalu basah

Sekali lagi kain itu tersibak

Lalu diam,

Diam-diam kami merayakannya.

Izinkanku Mengingat

Tuan, izinkan aku mengingatmu. Tentang irama pagi hari yang lembut pada telinga, juga tentang teh manis hangat sesaat sebelum perpisahan.

Tuan, izinkan aku mengingatmu. Tentang ketukan langkah kaki yang

sama

setiap pulang kantor,

juga tentang kecupan ringan pada keningku sebelum tidur.

Tuan,

izinkan aku mengingat-ingat remahan kenangan yang

semakin hilang

bersama kamu

yang kian tenggelam.

Berduka

Mungkinkah aku hanya menyimpanmu sebagai luka? Sebab tuan sudah bersama nona manis itu. Benarkah tuan, dunia ini hanya inginkan ku menyerah? Sebab tiada lagi yang harus kupertahankan. Bagaimana jika aku masih saja pada tempat yang sama? Sebab, aku masih penuh dengan penyangkalan.

Tuan, aku masih berduka.

Pada taman kota yang cerah,

Aku tiada tergugah

Untuk beranjak.

Sebab tuan, aku masih berduka.