Tulisan Panjang dan Membosankan tentang Perempuan

b9b650c0a3aa71e9838f4f854457a9e0
source: pinterest

Mengapa terjadi pelecehan terhadap perempuan? Minor atau mayor, pelecehan tetaplah pelecehan. Apa kamu tau? Catcalling termasuk pelecehan minor? Apakah pelaku catcalling adalah tukang parkir yang punya peluit, atau supir ojek yang mangkal dipinggir jalan dan tidak berpendidikan tinggi? Tidak. Tidak hanya kuli bangunan saja atau mereka-mereka yang kamu anggap rendahan melakukan catcalling. Apakah kamu sadar? Ketika berada di lingkungan kampusmu ada beberapa senior yang sering kali melakukan catcalling. Apakah kamu sadar? Pelaku pelecehan minor bisa saja manusia-manusia yang berpendidikan, yang memiliki ‘alat’ untuk melakukannya.

Catcalling  mungkin adalah tindak pelecehan minor yang paling dianggap sepele oleh sebagian besar orang. Tapi apakah kamu mengerti? Bahwa tindakkan tersebut sangatlah membuat perempuan risih. Tidak ada perempuan yang senang dengan tindakan tersebut. Ini adalah hal remeh yang seharusnya dicamkan oleh kaum ber-penis.

Oke lanjut.

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatakan menonton sebuah film mockumentary seorang perempuan yang mengalami pelecehan ketika kecil. Seperti korban pelecehan pada umumnya, ia tidak bisa bercerita kepada siapapun.

Film tersebut semakin membuka mata saya, bahwa korban pelecehan minor atau mayor tidak berakar dari seorang perempuan yang memakai rok pendek atau berpakaian senonoh. Tidak sama sekali. Bayangkan, perempuan (di film) tersebut mengalami pelecehan seksual pada umurnya yang ke sembilan tahun! Ini masalah birahi, bukan rok mini!

Pelecehan adalah tentang ia yang ingin memuaskan birahi; untuk menunjukkan diri bahwa ia yang lebih berkuasa. Ini tentang penaklukkan. Tidak peduli kamu perempuan jelek atau cantik, atau si pelaku yang memiliki kelamin super kecil sekalipun. Ia akan merasa puas dan merasa merajai kuasa ketika birahinya selesai, saat penisnya lemah terkulai. Ia akan puas ketika telah menaklukkan tubuhmu.

Kemudian, apa yang paling menyeramkan dari korban pelecehan? Si pelaku yang dihukum hanya kurang lebih 3 tahun penjara, padahal undang-undang mengatur untuk pelaku pelecehan mayor –pemerkosaan, pencabulan– mengenyam jeruji besi selama 12 tahun. Karena apa? Karena sistem hukum di negara ini masih belum memihak pada perempuan.

Tindak pidana perkosaan diatur dalam Pasal 285 KUHP yang berbunyi:
Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun.

Lalu, dengan pelaku dipenjarakan si korban akan senantiasa tersenyum puas? Tidak. Masih ada beban psikologis yang akan dialami oleh korban, dengan kesembuhan yang tidak tahu kapan. Tidak, waktu yang terus berjalan juga tidak akan menjamin kesembuhan psikologi para korban.

Apakah kamu tahu? Pada beberapa kasus pemerkosaan, justru si korbanlah yang harus menanggung perih yang mendalam. Sudah dilecehkan, lubang vagina mekar, keperawanan hilang, belum lagi memar-memar akibat kekerasan atas pemaksaan-pemaksaannya, si korban juga harus menanggung ketidakadilan dalam hukum.

“Ketika kamu dipaksa melakukan itu, apa yang kamu rasakan? Enak?”

Atau ada juga yang mempermasalahkan orangtua korban yang salah mendidik anaknya, sehingga anaknya menjadi korban pelecehan (minor ataupun mayor),

“Kalau sudah begini, salah didikan orangtuanya.”

Kamu akan menemukan hal-hal tersebut di headline berita, atau agar lebih kerasa bodohnya, kamu bisa nonton video-video di Utube tentang sidang pelecehan mayor.

Mungkin beberapa dari kamu yang membaca ini akan bosan, sebab tulisan panjang ini hanya tentang membela perempuan lagi dan lagi. Tapi, para perempuan, pecayalah. Mereka para penegak hukum memang tidak akan memberi kamu keadilan, keadilan untuk perempuan memang sudah layaknya diperjuangkan.

Siapapun yang menyalahkan korban pemerkosaan, seharusnya menjadi malu pada dirinya sendiri.

Andrew Trigg

Salam,
SementaraKelana