Kisah Perahu dan Daratan

Aku telah sampai pada penghujung tahun
tahun yang membuat perahu kecil ini harus selesai tugasnya. Sebab ia sudah berkali-kali kehilangan arah, disambar petir, diserang hujan, dipapar matahari, dibutakan angin, dikoyak ombak, disapa ikan paus, dicakar badai. Sebab ia sudah berhari-hari berlayar terarah tapi kompasnya tiba-tiba rusak lalu ia membuangnya dan dimakan oleh ikan belut.

Aku telah merindukan daratan, dahagaku hanya akan terpuaskan oleh air tawar dari daratan dan akan kubuat daratan merindukan ku juga. Seperti ibu yang akan merindukan seorang anaknya yang tiba-tiba hilang, yang tiba-tiba pergi tanpa sepatah kata untuk perpisahan.

Tapi apakah benar aku merindukan daratan? Apakah benar daratan akan merindukanku? Sedangkan antara perahu dan daratan, pun memiliki buku ceritanya sendiri untuk tidak berbaur dengan perahu yang lusuh bekas perang dilautan tanpa arah.

Aku telah sampai pada penghujung tahun
tahun yang membuat perahu kecil ini harus selesai tugasnya. Tapi kuputuskan untuk putar balik, mencari arah angin yang akan membawaku pada gemuruh keputusasaan. Aku akan mati bersamanya, tanpa harus kembali pada daratan. Aku akan kembali menyembah lautan dan melupakan daratan, lalu aku akan mati bersamanya.

EA/SK

Advertisements