Gelap Masih akan Tinggal

Hari masih sore ketika aku menuliskan kata-kata ini. Tapi sayangnya sudah terlalu gelap untuk aku bisa melihat sekeliling. Tidak ada lagi cahaya temaram pada pergantian senja, tidak ada lagi cahaya lampu teras yang baru dihidupkan, tidak ada lagi pencahayaan kecuali layar kecil berukuran lima inchi milikku.

Aku cari-cari kekasihku yang bernama Redel, mirip dengan nama pensil ujian nasional, tapi tak ketemu. Aku cari-cari ia pada tempat biasa ia bersembunyi, tak ada. Dibalik engkel motor bututnya juga tak ada. Dibalik kipas kecil dikamarnya juga tidak mungkin. Apakah sudah terlalu gelap, ya? Pikirku saat itu.

Aku melihat jam pada layar, sudah hilang senja ini sepertinya. Jam sudah meunjukkan pukul 7 malam. Sudah pasti senja telah menghilang dari kaki langit, tapi kemana Redel? Ia tak sesakti itu untuk pergi begitu saja dan tak bisa kutemukan. Sebab aku pun akan sama seperti itu; tak bisa begitu saja hilang tanpa ia temukan. Biasanya ia akan pamit jika akan pergi kesuatu tempat; yang kutahu ataupun tidak, ia akan meminta izinku. Hehe, suatu hal yang tak selalu kulakukan, sih.

Dengan terang yang hanya sekadarnya, aku meraba dan melihat-lihat kamar kekasihku yang entah dimana itu. Tata letak yang masih sama, karena memang ia sudah terlalu sibuk mungkin, ya. Kasur kecil yang selalu menjadi tempat kami bergumul, lemari sederhana yang ia buat sendiri, meja tempat menyimpan frame-frame berisi foto kami berdua, meja satunya yang menjadi fungsi lain rak buku, dan juga lainnya. Aku masih asik melihat-lihat dengan cahaya seadanya ketika ponselku memberikan notifikasi baterai yang melemah.

Pintu kamar dibuka. Redel ada disana. Baru pulang dari beli makan malam karena aku yang meminta sedari sore, katanya.

“Apakah gulita ini masih akan tinggal, Del?” tanyaku.

“Tergantung, sayang. Kamu ingin menghidupkan lagi, atau tidak?”

“Aku mau. Masih mau. Mau selamanya.”

Ia tersenyum masam, “baiklah. Tapi sementara biar kita seperti ini, ya.”

EA/SK

Kisah Perahu dan Daratan

Aku telah sampai pada penghujung tahun
tahun yang membuat perahu kecil ini harus selesai tugasnya. Sebab ia sudah berkali-kali kehilangan arah, disambar petir, diserang hujan, dipapar matahari, dibutakan angin, dikoyak ombak, disapa ikan paus, dicakar badai. Sebab ia sudah berhari-hari berlayar terarah tapi kompasnya tiba-tiba rusak lalu ia membuangnya dan dimakan oleh ikan belut.

Aku telah merindukan daratan, dahagaku hanya akan terpuaskan oleh air tawar dari daratan dan akan kubuat daratan merindukan ku juga. Seperti ibu yang akan merindukan seorang anaknya yang tiba-tiba hilang, yang tiba-tiba pergi tanpa sepatah kata untuk perpisahan.

Tapi apakah benar aku merindukan daratan? Apakah benar daratan akan merindukanku? Sedangkan antara perahu dan daratan, pun memiliki buku ceritanya sendiri untuk tidak berbaur dengan perahu yang lusuh bekas perang dilautan tanpa arah.

Aku telah sampai pada penghujung tahun
tahun yang membuat perahu kecil ini harus selesai tugasnya. Tapi kuputuskan untuk putar balik, mencari arah angin yang akan membawaku pada gemuruh keputusasaan. Aku akan mati bersamanya, tanpa harus kembali pada daratan. Aku akan kembali menyembah lautan dan melupakan daratan, lalu aku akan mati bersamanya.

EA/SK

Aku akan Mengujungimu

Diantara terang bulan dan fajar, mungkin aku akan mengunjungimu
Untuk sekedar bertukar sapa atau hanya berdiam saja
Dan bukankah diam adalah bahasa paling manis setelah perpisahan?
Lalu aku akan terpaku melihatmu yang kian memendar cahayanya

Tuanku
Adakah aku masih berjaya pada dadamu itu?
Yang degubnya selalu ku rindu, yang rengkuhnya selalu ku sapa

Tuanku
Dari dadaku yang paling damai,
tidakkah kau merindu masa-masa itu?

Love, is a Losing Game

Sudah sekian kali aku bertanya, “apakah kau takut kehilangan?”
“Sepertinya tidak,” jawabnya dengan wajah setenang air danau.

*

Sore jingga yang bertirai hujan itu, seseorang duduk-duduk dengan santai pada teras belakang rumah. Bersama sebungkus rokok, teh panas yang sudah tidak berasap, dan sebuah koran kemarin yang belum sempat ia baca. Kacamatanya melorot sampai setengah hidungnya yang mancung. Ia yang mengikatku bersama dengan sebuah janji.

Aku melihat punggungnya dari arah dapur. Aku sedang membuat kopi hitamku sendiri saat itu. Lalu lamunanku sampai pada sebuah rumah yang ku bangun dari remah-remah rencana A sampai double Z, butiran kebahagiaan juga obsesi, dan tetesan peluh amarah yang bercampur kesedihan bersama orang itu. Seketika aku teringat dengan bunyi derit kayu yang ia gergaji dengan teliti tiga hari tiga malam. Aku juga teringat teriakkannya ketika jari-jarinya terpukul palu sendiri. Kemudian hari itu kami habiskan dengan empat bungkus mie kuah yang tersisa dalam lemari.

Ia masih membolak-balik halaman koran kemarin, sambil sesekali menghisap rokoknya yang entah sudah batang keberapa, dan menyeruput teh dari cangkir favoritnya. Sedangkan aku masih berada dibalik meja dapur tempatku bekerja untuk memuaskan kebutuhan kami.

*

Pada satu malam, aku bertanya lagi padanya, “apakah kau takut kehilangan?”

“Untuk apa aku takut kehilangan, sementara manusia-manusia lain sudah meninggalkanku?” jawabnya dengan wajah setenang air danau.

Aku mengangkat bahu, “tidak tahu, ya. Mungkin kau memang sudah terlalu kosong sekarang.”

“Apa maksud ucapanmu itu?” tanyanya sambil mendelik kearahku.

“Entah ya. Aku merasa kau sudah kosong; untukku, maupun untuk dirimu sendiri.”

Ia menengok kearahku yang berada dibalik meja dapur dengan tepung yang berantakan dimana-mana, “mestinya jika kau mau, kau boleh pergi. Atau aku yang seharusnya pergi? Ini sudah terlau lama, kan?”

*

Sore jingga yang bertirai hujan itu, aku menyeruput kopiku untuk terakhir kali. Kemudian aku melihat diriku terduduk lemas tanpa detak jantung, tanpa napas. Kejadiannya begitu cepat. Aku sendiri tidak sadar ragaku sudah tak berisi.

Dan aku melihatnya berdiri di teras: menghampiriku.

Sore jingga yang bertirai hujan itu, tiada lagi pertanyaan ku akan kehilangan pada dirinya.

Sebab, pada sore jingga yang bertirai hujan itu, kami kembali bersama tanpa resah akan kehilangan.

EA/SK

Toh, Semua yang Terbang akan Jatuh juga

Sabtu malam aku terjaga pada kamar berukuran 4*5 meter persegi. Boro-boro merenung, bernapas pun harus dipaksakan. Sebab, ruangan ini penuh dengan asap yang menggantung diudara, bagai balon-balon berisi helium yang terjebak pada langit-langit rumah.

Sabtu malam berikutnya aku terbangun dengan setengah sadar, masih di dalam kamar berukuran 4*5 meter persegi. Ada suara jam dinding yang semakin didengar semakin tajam suaranya, padahal ia tidak memakai pengeras suara. Ada suara tetes air , juga blower pendingin ruangan yang menggerus-gerus dinding. Ada pula suara manusia-manusia sedang berbincang, mungkin dari kamar seberang. Sabtu malam itu, aku masih setengah sadar, diatas ranjang badan ku rasanya remuk saja, untuk duduk rasanya sulit.

Sabtu malam setelah dua Sabtu malam tersebut, aku ingin keluar dari kamarku. Sebelumnya ku pakai baju hangat dan syal wol pemberian ibuku dulu sekali. Badanku sudah tidak kaku, napasku sudah baik-baik saja. Setelah keluar dari kamar, aku lihat bermacam-macam cahaya: lampu taman, lampu kendaraan, api kecil pada dupa, kilat sedetik pada langit, juga kilau mata kucing yang terpapar cahaya.

Sabtu malam itu, aku kembali tertidur. Entah dimana, aku lupa.
Tapi, aku sudah jatuh dari terbangku. Mendarat, meskipun kurang sempurna.

Akan kucoba lagi, nanti. Ya, nanti-nanti saja.

EA/SK

Self-warning

“Reading is everything. Reading makes me feel like I’ve accomplished something, learned something, become a better person. Reading makes me smarter. Reading gives me something to talk about later on. Reading is the unbelievably healthy way my attention deficit disorder medicates itself. Reading is escape, and the opposite of escape; it’s a way to make contact with reality after a day of making things up, and it’s a way of making contact with someone else’s imagination after a day that’s all too real. Reading is grist. Reading is bliss.”

Nora Ephron