Di-ma-na-?

Erat nyata tergenggam. Matanya teduh, pelipisnya berpeluh tuangkan hasrat dan lalu pada sepertiga malam yang dihabiskan berdua. Matanya bercerita, tentang hujan, tentang rasa, tentang cinta, tentang kehilangan, tentang bekas gincu dicangkir kopi, tentang khusuk ibadah subuh hari, tentang perjalanan, tentang bakso langganan, tentang tantangan, tentang siapapun yang ada di hadapnya, tentang yang hilang dari keingintahuannya.
Erat melebur genggamannya. Berlari kecil sulit melabuh, semakin kencang semakin jauh. Pelipisnya berpeluh. Ceritakan juang, juga sisa asa diri terguncang. Aku mengiba, seperti angin ingin kusibak rambutnya, kucium bibirnya. Disana, berdua saja.

Advertisements

Jangan Menerka, Tanya Saja!

Aku datang kepada celah dinding yang keroposnya tidak terlihat sesiapa. Tidak ada satu mahkluk pun yang dapat melihatnya, kecuali aku. Padahal aku tidak pernah merabanya. Boro-boro meraba, mendekatinya saja aku enggan. Malu pada diri sendiri, pongah aku dibuatnya. Tetapi hanya dengan melihatnya sekilas, aku tahu dinding itu hampir roboh. Sudah sangat bobrok untuk berdiri sendirian, apalagi untuk menaungi sesuatu.

Meyakinkan diri adalah pikiranku yang paling wahid. Ingatanku pada dinding itu tidaklah mudah. Bagaimana aku harus menyaksikannya menyakiti diri sendiri, merampas kehormatannya dari serdadu, atau malah menangis lalu tertawa lalu menangis lagi lalu tertawa lagi. Bergidik aku menulis ini.

Lara yang ia emban tidak main-main. Memang hanya dia yang rasa, tapi aku juga bisa merasakannya. Tidak apa kamu menyebutku dengan terlalu sensitif, toh aku memang seperti itu. Aku terbiasa merasakan beban derita yang lain-lain, pokoknya selain aku sendiri, deh. Aku adalah tipe yang senang observasi biasanya. Tapi pada dinding itu aku tidak perlu. Terlalu mudah untukku. Terlalu mudah pikirku mendatanginya.

Benar saja.

Itu terjadi.

Terlalu pekat kesedihannya. Ku temani ia sampai ia pulih. Ingin sekali rasanya menyembuhkan pesakitannya. Membuatnya bertahan adalah misiku. Tapi membuatnya membutuhkanku adalah kelalaianku.

Benar saja.

Itu terjadi.

Aku tidak perlu mencari-cari. Aku tidak perlu membebani ku. Aku tidak perlu mengeja-eja. Aku tidak perlu mencari bisikan setan. Itu terjadi. Yang aku inginkan dan yang tidak aku inginkan, begitu saja. Sangat cepat, lebih cepat dari cahaya. Bahkan aku dibuatnya tidak percaya, juga habis daya.

Sekarang aku tahu, bahwasanya kemustahilan tidak mungkin dihindari. Tidak mungkin tidak terjadi. Mungkin sebab dari lalaiku. Mungkin sebab dari kenyamananku. Mungkin dari ketidaktahuan ku mencari tahu.

Lalu, kalau kamu mau tahu aku siapa.

Aku adalah yang kamu tunggu.

 

 

EA/SK

Puan Kelana

Jingga pada sore Kelana,
pelan lelap melahap hari
yang sulit lepas dari aktivitas
Bulan sapa Kelana di jalanan
Hinggap sana hinggap sini
Ketuk saja dengan halus, siapa tahu ia tersentuh
Debam nadi terdengar sampai kelu hati
mungkin untuk kamu
Langkah Kelana meraba tujuan,
meski ada
mati rasa

Tangan Tuhan ikut campur
Bibirnya dekat dengan telinga
Semakin dekat, semakin lekat

akhir indah bukanlah kehidupan yang baru, Kelana.

Sabda sajak pada sesiapa yang rasa
Gelas-gelas kopi baurkan kita
Gelintir lelah hilang sudah
Padahal bicara tiada tentu arah

Tapi aku tidak percaya
Kasih yang datang begitu saja
Ada celutasan asing jelma lalai takdir yang pasrah
Aku masih sama, kamu juga tebar pesona

Seru(!)

/1/
Aku kesulitan untuk palingkan gurat-gurat senyum yang jika semakin diperhati semakin indah saja
yang jika didelik selalu dalam aku durja
Pasti memori itu datang pada sela hujan bersama senja
tak urung buat otakku keras sekali bekerja

/2/
Kita barangkali tak biasa
bagaimana hiruk pikuk rupa kenangan hampir tidak pernah ku timbun
Biar kamu yang kubur
aku tiada kuasa
Tidak lagi duka bisa ku emban
Keluh hati sengaja ku tekan

/3/
Kamu tetap hijau
tampak selalu begitu tanpa ada ubah
Kamu tahu bahwa kamu yang isi ruang-ruang kosong dalam aku
itu absah
Kamu adalah rupa candu yang kacaukan aku dalam ingin temu