Sebuah Catatan

Hari-hari lunglai akibat aktivitas kuisi dengan tak selalu sengaja kelibat kamu. Coba ingat-ingat masa itu, coba ingat-ingat penuhnya keluh sesak dan isak yang kuat hadirnya tiap sore dibawah atap rumahku. Jangan salahkan diri yang kental ego muda belia hinakan aku. Sebab seberapapun mencoba, kamu perlu membawa maaf sebelum gelap semakin kelu.

Advertisements

Ketika Saya Bicara Sah-stra

527cd7d54235a13827a663d1fe7163bd
source: pinterest

Ada yang mengganjal kepala saya beberapa waktu terakhir; Apakah sastra itu adalah sesuatu yang harus memiliki struktur tertentu agar sebuah karya sastra –khususnya tulis— menjadi indah? Sementara setiap orang yang menulis sebuah sastra fiksi tidaklah memiliki selera yang bisa disamaratakan. Bicara tentang selera, banyak yang menjadi faktor pendukungnya, setiap orang bebas memilih zona nyamannya masing-masing terhadap gaya bahasa dan gaya penyampaian dalam karya yang –kemudian— dihasilkannya.

Ada banyak cerita fiksi yang ‘terjebak’ oleh serangkaian peraturan-peraturan tertentu. Jika tidak sesuai dengan kaidah penulisan, dikatakan tidak baik. Jika menempatkan sebuah atau beberapa kata yang berulang dibilang kurang indah. Lho? Barangkali kamu perlu membaca beberapa cerita pendek dari Danarto. Saya beri bocoran sedikit ya; Danarto memiliki gaya penulisan yang tidak perlu dimengerti oranglain dan juga ia memiliki begitu banyak pengulangan kata dalam sebuah karya tulisnya. Lantas dengan begitu, mengapa masih menarik untuk dibaca? Mengapa karya beliau masih saja banyak yang menikmati?

Mengutip omongan dari Seno Gumira tentang sastra –karya tulis fiksi—, “..jadi ya yang disebut sah-stra itu, yaitu sebisa mungkin tidak ada pesannya supaya pembaca itu kreatif..”

Dalam arti lain, menurut saya, mas Seno ingin menyampaikan bahwa; sastra tidak radikal. Sastra tidak melulu tentang nilai estetik ketika dibuat sampai akhirnya dibaca orang. Sastra seharusnya membuka jalan untuk semua manusia menumpahruahkan apa-apa yang ia punya. Dalam sebuah cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku, mas Seno ingin mengajak para pembaca untuk memiliki pola pikir imajinatif, memutus dunia riil dengan sesuatu yang sangat fiktif. Dalam cerita pendek tersebut, Sukab –seorang karakter dalam cerita tersebut— mengantongi sebuah matahari senja dari ujung kaki langit dan mengirimkannya melalui pos untuk seorang kekasih bernama Alina. Senja yang jingga terang itu dia kantongi, berkejar-kejaran dengan polisi, masuk ke selokan, sampai akhirnya ia kirim untuk Alina bersama sepucuk surat dalam satu amplop. Mana ada senja yang bisa dimasukkan dalam amplop? Ya tidak?

Dalam kasus lain, yaitu puisi; Sapardi Djoko Damono pernah menyebutkan, “menulis puisi adalah suatu bentuk karya seni. Seni ‘selalu’ membebaskan para pelihat maupun penikmatnya untuk bebas menginterpretasikannya”. Hal ini mengingatkan saya tentang: kesusastraan tidak lepas dari kisah masa lalu yang menjadikannya ‘alat’ propaganda.  Saya harap kamu tidak lupa pada cerita London has Fallen yang –kalau ditelisik lagi kisah tersebut— diprakarsai oleh Joseph Goebbels dan tidak benar kenyataannya. Cerita fiktif yang dilemparkan melalui lemabaran kertas dari pesawat terbang tersebut membuat penduduk seisi kota Paris ketakutan. Disini dapat dilihat bagaimana interpretasi pembaca menjadi ‘nyawa’ dari sebuah tulisan –terutama tulisan fiksi—.

Sebuah tulisan memang menyimpan tujuan yang ditujukan pada pembacanya. Tujuan tersebut bisa berupa ketakutan, harapan, menyulut amarah, dan lain sebagainya. Interpretasi dari pembacanyalah yang membuat tujuan tersebut tercapai. Untuk struktur tulisan, adalah keterserahan dari si penulis.

Jika membahas struktur penulisan, terutama dalam karya fiksi, mungkin akan menjadi sesuatu yang agak aneh untuk dibahas terlebih lagi menilai suatu karangan fiksi di era kontemporer seperti sekarang ini. Lha kok aneh? Sebab hampir semua manusia sekarang bisa mencurahkan apa-apa yang ia pikirkan atau mencurahkan isi hatinya. Apa susahnya? Hanya dengan mengambil kertas dan pena, atau gadget, merangkai sebuah kalimat lalu menjadi sebuah paragraf hingga jadi sebuah tulisan. Tidaklah penting jika struktur penulisan atau kalimatnya berantakan atau berulang-ulang atau malah terkesan amburadul, asalkan esensi dan mood-nya terasa pada si pembaca. Ya, kecuali penulis tersebut memiliki ‘ideologi’ penulisan ala Sastra Lama atau Melayu dengan rima khasnya; A B A B. Atau…… terbiasa menulis laporan ilmiah, sih.

Yaaaaa… begitulah. Bagi saya, sastra adalah sebuah bahasa dengan sifatnya sendiri. Sebuah karya sastra ‘ada’ sebab ia berasal dari alam batin penulisnya. Sastra juga tidak melulu mementingkan arti, ia lebih mementingkan gaya dan tafsir-tafsir yang luas.

 

Salam,
SementaraKelana

Tak Sampai

Lima belas ke dua belas
Luka yang ada membekas
Menjadi gulungan takdir tak perlu dibahas
Ruam-ruam yang tersisa kebas

Tak usah dibalas, sebab aku kian basah akan kasih yang tak jelas

Tak usah dipacu, sebab kau kian kering meskipun basah telah memelas

Aku terhuyung, bak kapas, aku terhempas.

Love, is a Losing Game

Sudah sekian kali aku bertanya, “apakah kau takut kehilangan?”
“Sepertinya tidak,” jawabnya dengan wajah setenang air danau.

*

Sore jingga yang bertirai hujan itu, seseorang duduk-duduk dengan santai pada teras belakang rumah. Bersama sebungkus rokok, teh panas yang sudah tidak berasap, dan sebuah koran kemarin yang belum sempat ia baca. Kacamatanya melorot sampai setengah hidungnya yang mancung. Ia yang mengikatku bersama dengan sebuah janji.

Aku melihat punggungnya dari arah dapur. Aku sedang membuat kopi hitamku sendiri saat itu. Lalu lamunanku sampai pada sebuah rumah yang ku bangun dari remah-remah rencana A sampai double Z, butiran kebahagiaan juga obsesi, dan tetesan peluh amarah yang bercampur kesedihan bersama orang itu. Seketika aku teringat dengan bunyi derit kayu yang ia gergaji dengan teliti tiga hari tiga malam. Aku juga teringat teriakkannya ketika jari-jarinya terpukul palu sendiri. Kemudian hari itu kami habiskan dengan empat bungkus mie kuah yang tersisa dalam lemari.

Ia masih membolak-balik halaman koran kemarin, sambil sesekali menghisap rokoknya yang entah sudah batang keberapa, dan menyeruput teh dari cangkir favoritnya. Sedangkan aku masih berada dibalik meja dapur tempatku bekerja untuk memuaskan kebutuhan kami.

*

Pada satu malam, aku bertanya lagi padanya, “apakah kau takut kehilangan?”

“Untuk apa aku takut kehilangan, sementara manusia-manusia lain sudah meninggalkanku?” jawabnya dengan wajah setenang air danau.

Aku mengangkat bahu, “tidak tahu, ya. Mungkin kau memang sudah terlalu kosong sekarang.”

“Apa maksud ucapanmu itu?” tanyanya sambil mendelik kearahku.

“Entah ya. Aku merasa kau sudah kosong; untukku, maupun untuk dirimu sendiri.”

Ia menengok kearahku yang berada dibalik meja dapur dengan tepung yang berantakan dimana-mana, “mestinya jika kau mau, kau boleh pergi. Atau aku yang seharusnya pergi? Ini sudah terlau lama, kan?”

*

Sore jingga yang bertirai hujan itu, aku menyeruput kopiku untuk terakhir kali. Kemudian aku melihat diriku terduduk lemas tanpa detak jantung, tanpa napas. Kejadiannya begitu cepat. Aku sendiri tidak sadar ragaku sudah tak berisi.

Dan aku melihatnya berdiri di teras: menghampiriku.

Sore jingga yang bertirai hujan itu, tiada lagi pertanyaan ku akan kehilangan pada dirinya.

Sebab, pada sore jingga yang bertirai hujan itu, kami kembali bersama tanpa resah akan kehilangan.

EA/SK

Toh, Semua yang Terbang akan Jatuh juga

Sabtu malam aku terjaga pada kamar berukuran 4*5 meter persegi. Boro-boro merenung, bernapas pun harus dipaksakan. Sebab, ruangan ini penuh dengan asap yang menggantung diudara, bagai balon-balon berisi helium yang terjebak pada langit-langit rumah.

Sabtu malam berikutnya aku terbangun dengan setengah sadar, masih di dalam kamar berukuran 4*5 meter persegi. Ada suara jam dinding yang semakin didengar semakin tajam suaranya, padahal ia tidak memakai pengeras suara. Ada suara tetes air , juga blower pendingin ruangan yang menggerus-gerus dinding. Ada pula suara manusia-manusia sedang berbincang, mungkin dari kamar seberang. Sabtu malam itu, aku masih setengah sadar, diatas ranjang badan ku rasanya remuk saja, untuk duduk rasanya sulit.

Sabtu malam setelah dua Sabtu malam tersebut, aku ingin keluar dari kamarku. Sebelumnya ku pakai baju hangat dan syal wol pemberian ibuku dulu sekali. Badanku sudah tidak kaku, napasku sudah baik-baik saja. Setelah keluar dari kamar, aku lihat bermacam-macam cahaya: lampu taman, lampu kendaraan, api kecil pada dupa, kilat sedetik pada langit, juga kilau mata kucing yang terpapar cahaya.

Sabtu malam itu, aku kembali tertidur. Entah dimana, aku lupa.
Tapi, aku sudah jatuh dari terbangku. Mendarat, meskipun kurang sempurna.

Akan kucoba lagi, nanti. Ya, nanti-nanti saja.

EA/SK