Sebuah Catatan

Hari-hari lunglai akibat aktivitas kuisi dengan tak selalu sengaja kelibat kamu. Coba ingat-ingat masa itu, coba ingat-ingat penuhnya keluh sesak dan isak yang kuat hadirnya tiap sore dibawah atap rumahku. Jangan salahkan diri yang kental ego muda belia hinakan aku. Sebab seberapapun mencoba, kamu perlu membawa maaf sebelum gelap semakin kelu.

Advertisements

Resah terasa dari udara yang kami hirup bersama
Dalam beberapa hari di tahun kedua
Kasih memilih telungkup dari hati yang tua

Toh, Semua yang Terbang akan Jatuh juga

Sabtu malam aku terjaga pada kamar berukuran 4*5 meter persegi. Boro-boro merenung, bernapas pun harus dipaksakan. Sebab, ruangan ini penuh dengan asap yang menggantung diudara, bagai balon-balon berisi helium yang terjebak pada langit-langit rumah.

Sabtu malam berikutnya aku terbangun dengan setengah sadar, masih di dalam kamar berukuran 4*5 meter persegi. Ada suara jam dinding yang semakin didengar semakin tajam suaranya, padahal ia tidak memakai pengeras suara. Ada suara tetes air , juga blower pendingin ruangan yang menggerus-gerus dinding. Ada pula suara manusia-manusia sedang berbincang, mungkin dari kamar seberang. Sabtu malam itu, aku masih setengah sadar, diatas ranjang badan ku rasanya remuk saja, untuk duduk rasanya sulit.

Sabtu malam setelah dua Sabtu malam tersebut, aku ingin keluar dari kamarku. Sebelumnya ku pakai baju hangat dan syal wol pemberian ibuku dulu sekali. Badanku sudah tidak kaku, napasku sudah baik-baik saja. Setelah keluar dari kamar, aku lihat bermacam-macam cahaya: lampu taman, lampu kendaraan, api kecil pada dupa, kilat sedetik pada langit, juga kilau mata kucing yang terpapar cahaya.

Sabtu malam itu, aku kembali tertidur. Entah dimana, aku lupa.
Tapi, aku sudah jatuh dari terbangku. Mendarat, meskipun kurang sempurna.

Akan kucoba lagi, nanti. Ya, nanti-nanti saja.

EA/SK