SULIT

Segelintir rindu, perawan malu-malu jatuhkan diri dari angkuhnya pagi
Kapan siap akan berpulang kurang peduli jika karam
Kepalang sayang nasi basi dilumat juga
Peduli setan katamu lantang

Sisa semalam cuma kita rasa, ampun-ampun kataku kelelahan
Sisa pesta kemarin juga masih lekat
Sisa rangkul perpisahan harumnya begitu lengket
Aku tolak sedu sedan

Advertisements

Tidak lagi.

Menerus aku tampik kau yang pura-pura polos bukan untuk hindari tikai hanya pusing kerap datang jika kau tampakkan wajah gagah itu, yang dulu tiada segan untuk mampir dan membuatku haru biru. Sebab luka-luka itu sulit sekali hilang, terus menerus lalu lalang. Oh, aku sungguh malang.

Aku akan Mengujungimu

Diantara terang bulan dan fajar, mungkin aku akan mengunjungimu
Untuk sekedar bertukar sapa atau hanya berdiam saja
Dan bukankah diam adalah bahasa paling manis setelah perpisahan?
Lalu aku akan terpaku melihatmu yang kian memendar cahayanya

Tuanku
Adakah aku masih berjaya pada dadamu itu?
Yang degubnya selalu ku rindu, yang rengkuhnya selalu ku sapa

Tuanku
Dari dadaku yang paling damai,
tidakkah kau merindu masa-masa itu?

Pergi

Membaur aku bersama malam
Juga bersama udara sisa hujan seharian
Tiba-tiba aku ingin pergi
Ke stasiun
Pagi-pagi.

Lalu aku pergi ke stasiun pagi-pagi
Balapan dengan matahari juga kepakkan burung gereja
Ku beli tiket untuk seorang

Dan berangkatlah aku
Menuju tempat yang tiada ku rencanakan.
Membaur bersama malam
Juga bersama sisa hujan seharian

Tiba-tiba aku ingin pergi
Tetapi
roda
masih berputar

Dan aku tiada mungkin pergi
lagi.

Izinkanku Mengingat

Tuan, izinkan aku mengingatmu. Tentang irama pagi hari yang lembut pada telinga, juga tentang teh manis hangat sesaat sebelum perpisahan.

Tuan, izinkan aku mengingatmu. Tentang ketukan langkah kaki yang

sama

setiap pulang kantor,

juga tentang kecupan ringan pada keningku sebelum tidur.

Tuan,

izinkan aku mengingat-ingat remahan kenangan yang

semakin hilang

bersama kamu

yang kian tenggelam.