Tidak lagi.

Menerus aku tampik kau yang pura-pura polos bukan untuk hindari tikai hanya pusing kerap datang jika kau tampakkan wajah gagah itu, yang dulu tiada segan untuk mampir dan membuatku haru biru. Sebab luka-luka itu sulit sekali hilang, terus menerus lalu lalang. Oh, aku sungguh malang.

Advertisements

Senin; Tidak Siap atau Membenci?

4b3247665db03854e5e99fa41c24474d
source: google

Ramai-ramai manusia kegirangan setelah hari Kamis selesai dan kemudian di esok harinya, ramai-ramai mereka meng-update status pada media sosial “TGIF!” –Thanks God I’ts Friday— yang semakin populer setelah Katy Perry merilis lagu Last Friday Night (T.G.I.F). Mengapa hari Jum’at selalu dinanti? Tapi setelah hari Minggu selesai dan hari Senin tiba, mereka dalam waktu yang tidak jauh berbeda meng-update status “I hate Monday”. Lalu, mengapa hari Senin begitu dibenci?

Begini, Monday Disease adalah istilah dari para penyortir bulu domba yang selalu mengidap alegri –yang sama— setiap kembali bekerja setelah hari libur. Tapi nampaknya kamu bukanlah penyortir bulu domba, ya, kamu yang selalu saja tidak suka kedatangan Senin. Saya memang tidak ada masalah dan tidak begitu peduli dengan kamu yang membencinya. Tapi, hey, ia hanyalah sebuah hari yang memiliki urutan paling depan dalam seminggu. Barangkali yang kamu benci bukanlah hari Senin, tetapi ketidaksiapanmu untuk mengawali kegiatan, juga mengulangnya lagi dan lagi. Senin hanyalah sebuah nama, seperti hari-hari yang akan datang. Senin hanyalah sebuah nama, seperti namamu Vidi atau temanmu Remy. Benar?

Jika membicarakan ketidaksiapan, untuk berada pada hari apapun sebutannya, kamu akan merasa terbebani. Saya tidak lupa tentang Brenda Spencer (16) pelajar San Diego, Amerika Serikat yang menembaki sepuluh pelajar lain secara acak pada suatu Senin dengan alasan yang cukup sederhana, “I Hate Monday”. Barangkali Senin memang mengganggu psikologi bagi sebagian orang, terlebih kamu yang setiap terbangun di pagi hari tersebut dengan isi kepala yang langsung penuh dengan hal-hal buruk nan mengenyangkan; kemacetan, kondisi angkutan umum yang kurang bersahabat, tumpukkan tugas-tugas kantor juga kondisinya yang menyebalkan atau manusia-manusia di dalamnya yang tidak menyenangkan. Dengan begitu kamu segera saja tidak acuh pada anjuran dokter pribadimu untuk bangun pagi dengan kepala yang fresh. Kamu tidak akan siap mejalani kehidupan Senin mu. Bisa saya katakan bahwa ini adalah perkara mind-set.  Bagaimana kamu akan bisa mencintai awal pekan jika yang ada dalam kepalamu itu selalu saja rasa ketidaksukaan akan Senin?

Memang menurut riset dari seorang ahli, Prof Leon Lack dari Flinders University menyimpulkan bahwa kebiasaan bermalas-malasan hari Sabtu dan Minggu dapat mengganggu ritme tubuh. Oh ya, jelas saja kamu membenci Senin kalau kamu memanfaatkan akhir pekan dengan tidak produktif atau ‘balas dendam’ atas apa yang sudah kamu lalui pada empat atau lima hari sebelumnya. Kamu tidak akan ada bedanya dengan teman sekantormu yang berwajah tegang lebih lama, menggerutu seperti kakek tua pada setiap awal hari yang kamu benci itu.

Setelah membaca semuanya, kamu hanya perlu mengabaikan tulisan ini. Sebab mind-set mu akan hari Senin masih tetap bukan menjadi urusanku.

Jadi pertanyaanku: kamu membenci atau memang tidak siap akan awal pekan?

Ketika Saya Bicara Sah-stra

527cd7d54235a13827a663d1fe7163bd
source: pinterest

Ada yang mengganjal kepala saya beberapa waktu terakhir; Apakah sastra itu adalah sesuatu yang harus memiliki struktur tertentu agar sebuah karya sastra –khususnya tulis— menjadi indah? Sementara setiap orang yang menulis sebuah sastra fiksi tidaklah memiliki selera yang bisa disamaratakan. Bicara tentang selera, banyak yang menjadi faktor pendukungnya, setiap orang bebas memilih zona nyamannya masing-masing terhadap gaya bahasa dan gaya penyampaian dalam karya yang –kemudian— dihasilkannya.

Ada banyak cerita fiksi yang ‘terjebak’ oleh serangkaian peraturan-peraturan tertentu. Jika tidak sesuai dengan kaidah penulisan, dikatakan tidak baik. Jika menempatkan sebuah atau beberapa kata yang berulang dibilang kurang indah. Lho? Barangkali kamu perlu membaca beberapa cerita pendek dari Danarto. Saya beri bocoran sedikit ya; Danarto memiliki gaya penulisan yang tidak perlu dimengerti oranglain dan juga ia memiliki begitu banyak pengulangan kata dalam sebuah karya tulisnya. Lantas dengan begitu, mengapa masih menarik untuk dibaca? Mengapa karya beliau masih saja banyak yang menikmati?

Mengutip omongan dari Seno Gumira tentang sastra –karya tulis fiksi—, “..jadi ya yang disebut sah-stra itu, yaitu sebisa mungkin tidak ada pesannya supaya pembaca itu kreatif..”

Dalam arti lain, menurut saya, mas Seno ingin menyampaikan bahwa; sastra tidak radikal. Sastra tidak melulu tentang nilai estetik ketika dibuat sampai akhirnya dibaca orang. Sastra seharusnya membuka jalan untuk semua manusia menumpahruahkan apa-apa yang ia punya. Dalam sebuah cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku, mas Seno ingin mengajak para pembaca untuk memiliki pola pikir imajinatif, memutus dunia riil dengan sesuatu yang sangat fiktif. Dalam cerita pendek tersebut, Sukab –seorang karakter dalam cerita tersebut— mengantongi sebuah matahari senja dari ujung kaki langit dan mengirimkannya melalui pos untuk seorang kekasih bernama Alina. Senja yang jingga terang itu dia kantongi, berkejar-kejaran dengan polisi, masuk ke selokan, sampai akhirnya ia kirim untuk Alina bersama sepucuk surat dalam satu amplop. Mana ada senja yang bisa dimasukkan dalam amplop? Ya tidak?

Dalam kasus lain, yaitu puisi; Sapardi Djoko Damono pernah menyebutkan, “menulis puisi adalah suatu bentuk karya seni. Seni ‘selalu’ membebaskan para pelihat maupun penikmatnya untuk bebas menginterpretasikannya”. Hal ini mengingatkan saya tentang: kesusastraan tidak lepas dari kisah masa lalu yang menjadikannya ‘alat’ propaganda.  Saya harap kamu tidak lupa pada cerita London has Fallen yang –kalau ditelisik lagi kisah tersebut— diprakarsai oleh Joseph Goebbels dan tidak benar kenyataannya. Cerita fiktif yang dilemparkan melalui lemabaran kertas dari pesawat terbang tersebut membuat penduduk seisi kota Paris ketakutan. Disini dapat dilihat bagaimana interpretasi pembaca menjadi ‘nyawa’ dari sebuah tulisan –terutama tulisan fiksi—.

Sebuah tulisan memang menyimpan tujuan yang ditujukan pada pembacanya. Tujuan tersebut bisa berupa ketakutan, harapan, menyulut amarah, dan lain sebagainya. Interpretasi dari pembacanyalah yang membuat tujuan tersebut tercapai. Untuk struktur tulisan, adalah keterserahan dari si penulis.

Jika membahas struktur penulisan, terutama dalam karya fiksi, mungkin akan menjadi sesuatu yang agak aneh untuk dibahas terlebih lagi menilai suatu karangan fiksi di era kontemporer seperti sekarang ini. Lha kok aneh? Sebab hampir semua manusia sekarang bisa mencurahkan apa-apa yang ia pikirkan atau mencurahkan isi hatinya. Apa susahnya? Hanya dengan mengambil kertas dan pena, atau gadget, merangkai sebuah kalimat lalu menjadi sebuah paragraf hingga jadi sebuah tulisan. Tidaklah penting jika struktur penulisan atau kalimatnya berantakan atau berulang-ulang atau malah terkesan amburadul, asalkan esensi dan mood-nya terasa pada si pembaca. Ya, kecuali penulis tersebut memiliki ‘ideologi’ penulisan ala Sastra Lama atau Melayu dengan rima khasnya; A B A B. Atau…… terbiasa menulis laporan ilmiah, sih.

Yaaaaa… begitulah. Bagi saya, sastra adalah sebuah bahasa dengan sifatnya sendiri. Sebuah karya sastra ‘ada’ sebab ia berasal dari alam batin penulisnya. Sastra juga tidak melulu mementingkan arti, ia lebih mementingkan gaya dan tafsir-tafsir yang luas.

 

Salam,
SementaraKelana

Tulisan Panjang dan Membosankan tentang Perempuan

b9b650c0a3aa71e9838f4f854457a9e0
source: pinterest

Mengapa terjadi pelecehan terhadap perempuan? Minor atau mayor, pelecehan tetaplah pelecehan. Apa kamu tau? Catcalling termasuk pelecehan minor? Apakah pelaku catcalling adalah tukang parkir yang punya peluit, atau supir ojek yang mangkal dipinggir jalan dan tidak berpendidikan tinggi? Tidak. Tidak hanya kuli bangunan saja atau mereka-mereka yang kamu anggap rendahan melakukan catcalling. Apakah kamu sadar? Ketika berada di lingkungan kampusmu ada beberapa senior yang sering kali melakukan catcalling. Apakah kamu sadar? Pelaku pelecehan minor bisa saja manusia-manusia yang berpendidikan, yang memiliki ‘alat’ untuk melakukannya.

Catcalling  mungkin adalah tindak pelecehan minor yang paling dianggap sepele oleh sebagian besar orang. Tapi apakah kamu mengerti? Bahwa tindakkan tersebut sangatlah membuat perempuan risih. Tidak ada perempuan yang senang dengan tindakan tersebut. Ini adalah hal remeh yang seharusnya dicamkan oleh kaum ber-penis.

Oke lanjut.

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatakan menonton sebuah film mockumentary seorang perempuan yang mengalami pelecehan ketika kecil. Seperti korban pelecehan pada umumnya, ia tidak bisa bercerita kepada siapapun.

Film tersebut semakin membuka mata saya, bahwa korban pelecehan minor atau mayor tidak berakar dari seorang perempuan yang memakai rok pendek atau berpakaian senonoh. Tidak sama sekali. Bayangkan, perempuan (di film) tersebut mengalami pelecehan seksual pada umurnya yang ke sembilan tahun! Ini masalah birahi, bukan rok mini!

Pelecehan adalah tentang ia yang ingin memuaskan birahi; untuk menunjukkan diri bahwa ia yang lebih berkuasa. Ini tentang penaklukkan. Tidak peduli kamu perempuan jelek atau cantik, atau si pelaku yang memiliki kelamin super kecil sekalipun. Ia akan merasa puas dan merasa merajai kuasa ketika birahinya selesai, saat penisnya lemah terkulai. Ia akan puas ketika telah menaklukkan tubuhmu.

Kemudian, apa yang paling menyeramkan dari korban pelecehan? Si pelaku yang dihukum hanya kurang lebih 3 tahun penjara, padahal undang-undang mengatur untuk pelaku pelecehan mayor –pemerkosaan, pencabulan– mengenyam jeruji besi selama 12 tahun. Karena apa? Karena sistem hukum di negara ini masih belum memihak pada perempuan.

Tindak pidana perkosaan diatur dalam Pasal 285 KUHP yang berbunyi:
Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun.

Lalu, dengan pelaku dipenjarakan si korban akan senantiasa tersenyum puas? Tidak. Masih ada beban psikologis yang akan dialami oleh korban, dengan kesembuhan yang tidak tahu kapan. Tidak, waktu yang terus berjalan juga tidak akan menjamin kesembuhan psikologi para korban.

Apakah kamu tahu? Pada beberapa kasus pemerkosaan, justru si korbanlah yang harus menanggung perih yang mendalam. Sudah dilecehkan, lubang vagina mekar, keperawanan hilang, belum lagi memar-memar akibat kekerasan atas pemaksaan-pemaksaannya, si korban juga harus menanggung ketidakadilan dalam hukum.

“Ketika kamu dipaksa melakukan itu, apa yang kamu rasakan? Enak?”

Atau ada juga yang mempermasalahkan orangtua korban yang salah mendidik anaknya, sehingga anaknya menjadi korban pelecehan (minor ataupun mayor),

“Kalau sudah begini, salah didikan orangtuanya.”

Kamu akan menemukan hal-hal tersebut di headline berita, atau agar lebih kerasa bodohnya, kamu bisa nonton video-video di Utube tentang sidang pelecehan mayor.

Mungkin beberapa dari kamu yang membaca ini akan bosan, sebab tulisan panjang ini hanya tentang membela perempuan lagi dan lagi. Tapi, para perempuan, pecayalah. Mereka para penegak hukum memang tidak akan memberi kamu keadilan, keadilan untuk perempuan memang sudah layaknya diperjuangkan.

Siapapun yang menyalahkan korban pemerkosaan, seharusnya menjadi malu pada dirinya sendiri.

Andrew Trigg

Salam,
SementaraKelana