Kucuri Kamu, dalam Ingatan Pagi

Sore ranum, senja harum
Kupetik kata-kata yang telah ada
Kadang kala hilang santun kuhabisi saja dengan mengulum
Hingga kamu jatuh tak sadar aku tiada

Pagi-pagi aku bangun mendengar suara dentuman dari jauh, mendekat, jauh lagi. Rupanya matahari sedang bertengkar dengan bulan, suasana jadi kacau. Sebentar terang sebentar gelap sebentar lagi, mungkin kiamat, gumamku. Buru-buru kuciumi selimut yang tertinggal wangi badanmu, wangi khas badanmu saat pagi yang membuatku candu untuk bangun lebih subuh lagi dan lagi. Kemudian ku kemas selimut itu, kumasukkan pakaianku –juga kamu tentu– dan membungkusnya dengan rapat pada segala sisi.

Matahari dan bulan masih beradu kuat, belum juga ketahuan siapa pemenangnya. Sebelum keluar rumah, kucari kacamata hitam pemberianmu saat aku wisuda beberapa waktu lalu. Setelah memakainya, keluarlah aku dari rumah dengan menenteng-nenteng selimut berisi kain-kain yang ternyata lumayan berat.

“Sekarang giliran matahari!!!!!!!!!” teriakku keras sekali sampai membuat duo adu kekuatan itu menengok kearahku.

“Apa liat-liat???!!” teriakku lagi, keras sekali.

Mereka diam. Mungkin, pikir mereka, betapa hebatnya ada manusia yang bisa berteriak dengan songong dan mencoba untuk menghentikan mereka. Hahahaha. Aku memang jago.

“CEPAT PERGI BULAN!!!!!!!!!!! WAKTUMU SUDAH SELESAI!!!!!!! INI SEHARUSNYA PAGI HARI, BUKAN MALAM!! JANGAN GOBLOK!!” makiku, sebelum aku sadar tenggorokkanku mulai serak.

Si bulan kemudian memandang matahari dengan sengit, begitu pula sebaliknya. Dan si matahari dengan sombong menendang perut bulan kencaaaang sekali sampai-sampai bulan hilang seketika dari langit yang seharusnya pagi.

Lalu matahari bertanya padaku, “mengapa kau membantuku? Sementara manusia lain tidak ada yang peduli padaku?”

Aku mendengus, “aku sebenarnya benci ketika kamu datang. Sebab kekasihku akan menghilang dan hanya baunya yang tertinggal pagi hari.”

“Lalu?” tanya matahari penasaran.

“Tapi aku lebih kesal lagi kalau kalian bertengkar seperti tadi! Semakin lama kalian bertengkar, semakin lama waktu kekasihku kembali! Dasar tidak sopan!”

Matahari kemudian meminta maaf dan ia berjanji tidak akan mengulanginya pada lain waktu.

Sebelum aku pergi, ia bertanya, “akan kemana kau, manusia? Dengan kain tebal yang kau pikul itu?”

Aku mendelik sebentar, “mencuri ingatan tentang kekasihku.”

EA/SK

Advertisements

5 thoughts on “Kucuri Kamu, dalam Ingatan Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s