Love, is a Losing Game

Sudah sekian kali aku bertanya, “apakah kau takut kehilangan?”
“Sepertinya tidak,” jawabnya dengan wajah setenang air danau.

*

Sore jingga yang bertirai hujan itu, seseorang duduk-duduk dengan santai pada teras belakang rumah. Bersama sebungkus rokok, teh panas yang sudah tidak berasap, dan sebuah koran kemarin yang belum sempat ia baca. Kacamatanya melorot sampai setengah hidungnya yang mancung. Ia yang mengikatku bersama dengan sebuah janji.

Aku melihat punggungnya dari arah dapur. Aku sedang membuat kopi hitamku sendiri saat itu. Lalu lamunanku sampai pada sebuah rumah yang ku bangun dari remah-remah rencana A sampai double Z, butiran kebahagiaan juga obsesi, dan tetesan peluh amarah yang bercampur kesedihan bersama orang itu. Seketika aku teringat dengan bunyi derit kayu yang ia gergaji dengan teliti tiga hari tiga malam. Aku juga teringat teriakkannya ketika jari-jarinya terpukul palu sendiri. Kemudian hari itu kami habiskan dengan empat bungkus mie kuah yang tersisa dalam lemari.

Ia masih membolak-balik halaman koran kemarin, sambil sesekali menghisap rokoknya yang entah sudah batang keberapa, dan menyeruput teh dari cangkir favoritnya. Sedangkan aku masih berada dibalik meja dapur tempatku bekerja untuk memuaskan kebutuhan kami.

*

Pada satu malam, aku bertanya lagi padanya, “apakah kau takut kehilangan?”

“Untuk apa aku takut kehilangan, sementara manusia-manusia lain sudah meninggalkanku?” jawabnya dengan wajah setenang air danau.

Aku mengangkat bahu, “tidak tahu, ya. Mungkin kau memang sudah terlalu kosong sekarang.”

“Apa maksud ucapanmu itu?” tanyanya sambil mendelik kearahku.

“Entah ya. Aku merasa kau sudah kosong; untukku, maupun untuk dirimu sendiri.”

Ia menengok kearahku yang berada dibalik meja dapur dengan tepung yang berantakan dimana-mana, “mestinya jika kau mau, kau boleh pergi. Atau aku yang seharusnya pergi? Ini sudah terlau lama, kan?”

*

Sore jingga yang bertirai hujan itu, aku menyeruput kopiku untuk terakhir kali. Kemudian aku melihat diriku terduduk lemas tanpa detak jantung, tanpa napas. Kejadiannya begitu cepat. Aku sendiri tidak sadar ragaku sudah tak berisi.

Dan aku melihatnya berdiri di teras: menghampiriku.

Sore jingga yang bertirai hujan itu, tiada lagi pertanyaan ku akan kehilangan pada dirinya.

Sebab, pada sore jingga yang bertirai hujan itu, kami kembali bersama tanpa resah akan kehilangan.

EA/SK

Advertisements

2 thoughts on “Love, is a Losing Game

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s