Selamat Pagi

Lalu pagi melahap malam, tapi hangat tidak datang. Hujan meraung-raung, binatang pergi dari tempatnya. Melolong nasib kepada si hampa, mati rasa. Selesai sudah.

Advertisements

Runduk Hitung Waktu

Ada yang menghitung waktu dengan bermain-main, tertawa haha hihi, menanam kebaikan, pun bercerita sambil bercinta. Yang lainnya hanya berdiam dan membayangkan apa yang akan terjadi, menerka kemungkinan-kemungkinan seiring adanya kilat kecil gambaran masa depan. Beberapa lagi melakukan kegiatan yang sama seperti biasa, seakan masa depan tidak perlu dihitung, tunggu saja toh tidak akan ada yang bisa diubah dari sana, pikirnya.

Sesuatu sudah jauh berbeda dari tempat ia berasal. Terselimutkan kata-kata, tutup arah yang malu pada entah yang membingungkan. Bait kata yang tunjukkan hasrat nelangsa sudah datang. Terjebak. Menjebak. Sulur harapan pada lunglai setiap gerak raga lepas sudah, pasrah saja. Tiada yang bisa hentikan waktu, bersama warna-warna telaga yang terbias matahari pukul 12 siang itu raganya lepas, jiwanya menetap.

Kali ini ada irama yang semakin cepat, secepat datangnya sergap lengan yang legam dari belakang. Beri nama ia tenang, seberapa memburu nafas dan degub nadi, punggung tangan yang berisi urat-urat kesunyian itu meraba tentram. Matahari terbahak, sedangkan tegala menjerit-jerit kepanasan. Tapi dua onggok raga yang menempel satu sama lain itu masih menumpang masing-masing jiwa anggak yang terlalu.

“Jangan beri aku nama sesukamu.”

“Tolong jangan jadikan sepele hingar, aku sulit terbiasa.”

Menari-nari hari yang muda, tidak juga membungkuk kepala matahari siang itu. Arak awan sulit untuk diharapkan, tidak ada nada kepatuhan dari si Yang Mulia. Ada dendam yang terbiasa disimpan dalam ujung jurang paling sepi. Bisa melenggang disana di sana dengan terserah, bisa teriak sekencangnya tapi pekak harus rasa sendiri. Begitu kira-kira gambarannya. Melukai diri sendiri adalah keahliannya.

Sebelumnya tidak ada yang tahu bagaimana rupa telaga, sebelumnya tidak ada yang mau mengerti rasa panas yang tercipta. Baginya kata-kata hanyalah berupa kerumunan benda mati tanpa rasa. Salah. Ia salah. Luput dari kepalanya yang besar itu kemampuan mencicipi kata. Siang yang buta, peka yang lupa. Kasih yang ngilu, selaraskan seluruh ada yang lara.

“Bagaimana jika diam saling membalas?”

“Biarkan saja, nanti juga kembali ramai jika butuh.”

“Bagaimana jika terlalu usang?”

“Baiknya kamu pikirkan sendiri saja, itu masalahmu.”

Ringkuk kelahi jawaban yang akhiri perlengketan dua onggok massa waktu, simpan dendam juga petir-petir yang sahutnya mengejutkan. Matahari terbenam entah dimana. Bahasa menjadi kabur, lebur bersama pongah sembunyi di balik kain tipis yang baluti hari Sabtu sore.

Keringat-keringat masih lekat, ia lebih memilih menghitung waktu dengan sembunyi. Merelakan kegiatan yang sama, juga diam-diam mencari cara agar tidak terlalu cepat ketahuan. Telaga tidak lagi kegerahan, begitu mungkin raga dan jiwa harus kembali sebelum terjadi kemalangan. Riuh kepala berganti sunyi yang derita, memohon-mohon pada ia yang sebelumnya menyatu.

Coba saja dideru, mungkin masih sempat diujung sana bekasnya membiru.

 

 

Ditulis pada,

25/11/2018

Pagi, Manis

Dibelai waktu, meringkuk dalam umur hari yang terlalu. Pada hari ini sesungguhnya aku tahu, mengapa ada lembar surat yang ditulis. Sampaikan pesan tandakan bahaya. Benar. Bahaya. Banyak yang sudah dilewati. Nektarnya sudah kuhisap sampai habis, bersisa, tapi tak banyak. Sabar-sabar memang obat, tapi tetap bukan untuk menyembuhkan. Jangan tanya kenapa, sebab rasa sendiri olehmu. Begitu juga aku, alaminya sendirian, dibuatnya senandungkan semoga dan ucap-ucap harap. Dukanya ada diamini si nganga luka. Coba ubah, tapi jangan ketahuan, ia lebih suka manipulasi, bukan perintah sana-sini. Aku bukan ragu, hanya saja banyak tentang yang bertentang, tidak baik untuk terus dikembangkan. Memang kagum adalah kenyamanan paling awal, lalu kasih terasa nyata setelahnya. Jangan melawan, angguk saja, ia memang rupawan, seksi buat kamu melayang. Itu sangat lumrah, aku rasakan nikmatnya. Sekonyong-konyong permainan dawai pada kulit yang bersentuh. Coba saja nanti, kamu akan rasa pula. Nikmati saja nanti, sisa dariku.

Merunduk matahari pagi ini. Aku sudahi saja. Kelewat senang menulisnya, kelewat ngantuk pula aku sekarang. Nanti setelah terbangun dari tidur yang biasa, akan kulanjutkan lagi.

Kentang

Eh dunia lucu sekali memang, selalu seperti itu. Kopi moka ku habis, tetapi cokelatnya masih rehat pada bibir. Aku ingin berimu selamat, telah sampai ditujuan tanpa duka luka yang gemuk nan sehat. Mengoyak dayung yang kayuhnya sebentar lagi akhir. Eh buaya datang, ketika itu menyelamatkanmu adalah misiku. Perahu itu perlu ku jaga sampai disapa daratan. Sekarang lamunku, harusnya kubiarkan saja kau mati di telaga itu. Dimakan buaya dan dicabik-cabik perasaan bersalah. Jiwamu tak tenang mauku sampai selamanya. Mampus kau mati tanpa pernah ucap sesal, matimu sungguh kesal. Tapi aku tidak iba, malah senang, mau pesan teh lemon sekarang.

Tiada Usai Hari Ini

Sejak pagi sudah dijejal ingin teramat besar. Jangan bayangkan besar apa. Tapi hanya gemuruh kian rusuh coba usik damai nyanyian burung sampai aku gusar. Coba kembali sebab tanggung ini menggunung, pintanya dengan jahitan kata-kata. Aku sudah terlalu luka, menutupnya butuh bantuan tanpa cela. Diam saja, sih tidak perlu diungkap. Ulangi lagi sekian kali, aku kalut lelah dipadati arti-arti. Pagi tidak juga ganti cuma itu risauku hari ini, atau lepehkan saja ludah itu dari langit biar lawanku tak lagi sengit. Ah yaampun, otakku digerogoti waktu.

Tiada siang, sore apalagi malam yang datang. Simpulkan saja olehku, usai masih jauh dari hilal. Cepat pamit, aku mual kau bertandang.