Ku Curi Kamu Sore itu

Sore masih pagi kala itu. Ketika tupai melompat-lompat girang mendapat makanan ringan. Ketika angin masih ribut sunyi suara deburnya. Ketika rasa melembut lebih halus dari biasanya.

Mata sulit terbuka. Rengkuh dan lenguh ada pada kita. Tiada yang agung-agungkan diri. Tiada yang paling berkuasa! Semua rata tanpa ada sentilan kacau pada suasana. Siapa yang bisa terka? Tapi biasakan jangan, sebabnya ada luka.

Hangat bisikanmu. Tandakan bahaya juga sayang. Nasib adalah yang kita cipta. Tuhan tersenyum diam-diam. Aku tahu Ia pasti begitu! Terimakasih, Tuhan! Sahutku dalam hati, suaranya lembut tanpa ada yang dengar. Lalu begitu lah, Tuhan tersenyum diam-diam. Aku tahu Ia senang. 

Kami bersembunyi dalam ketiak waktu. Semesta adalah mediumnya. Tiada yang tahu kelak hanya kami yang rasa. Semalaman egoku terguncang, seharian perasaanku tak karuan. Tapi tiada tangis yang menyapa, tiada bulir hujan jatuh pada apa. Dan terjadilah! Begitu kata Tuhan.

Dan, ada kamu di pelupuk mataku.
Tanpa durja, tanpa sendu kelu.
Aku bersembunyi pada dadanya sore itu.
EA/SK

Advertisements

Jumpa Nona

Rekam jejak pada kamu yang hilang
Dawai-dawai senandungkan pilu
Harap temu seperti halu
Ada jarak sisipan penuh kilang

Siapa sangka aku haus temu
Tiada lain ya kamu melulu
Ah aku malu
Kemudian aku tanya,
“kasih kah yang membawamu?”
Getir sungkan sembunyi,
“waktu tersimpan kasih pada duka paling baru, itu kamu”.

Semoga (Ti)ada Akhir

Kami pecah dalam sajak
Buaian kebahagiaan mencapai puncak
Nikmat tiada tanding
Elu-elukan masa tua
adalah satu pada kami buat pusing

Sampai pergi angin lalu
Keringat baurkan malam hangat
Ketawanya haha hihi
Lebih seram dari kunti,
lembut gemuruh sunyi peti

Kembali lagi untuk diri
pada pertemuan paling cantik
Meski bising dalam khidmat
Ini bukan puisi,
tapi isi hati.

Jangan Menerka, Tanya Saja!

Aku datang kepada celah dinding yang keroposnya tidak terlihat sesiapa. Tidak ada satu mahkluk pun yang dapat melihatnya, kecuali aku. Padahal aku tidak pernah merabanya. Boro-boro meraba, mendekatinya saja aku enggan. Malu pada diri sendiri, pongah aku dibuatnya. Tetapi hanya dengan melihatnya sekilas, aku tahu dinding itu hampir roboh. Sudah sangat bobrok untuk berdiri sendirian, apalagi untuk menaungi sesuatu.

Meyakinkan diri adalah pikiranku yang paling wahid. Ingatanku pada dinding itu tidaklah mudah. Bagaimana aku harus menyaksikannya menyakiti diri sendiri, merampas kehormatannya dari serdadu, atau malah menangis lalu tertawa lalu menangis lagi lalu tertawa lagi. Bergidik aku menulis ini.

Lara yang ia emban tidak main-main. Memang hanya dia yang rasa, tapi aku juga bisa merasakannya. Tidak apa kamu menyebutku dengan terlalu sensitif, toh aku memang seperti itu. Aku terbiasa merasakan beban derita yang lain-lain, pokoknya selain aku sendiri, deh. Aku adalah tipe yang senang observasi biasanya. Tapi pada dinding itu aku tidak perlu. Terlalu mudah untukku. Terlalu mudah pikirku mendatanginya.

Benar saja.

Itu terjadi.

Terlalu pekat kesedihannya. Ku temani ia sampai ia pulih. Ingin sekali rasanya menyembuhkan pesakitannya. Membuatnya bertahan adalah misiku. Tapi membuatnya membutuhkanku adalah kelalaianku.

Benar saja.

Itu terjadi.

Aku tidak perlu mencari-cari. Aku tidak perlu membebani ku. Aku tidak perlu mengeja-eja. Aku tidak perlu mencari bisikan setan. Itu terjadi. Yang aku inginkan dan yang tidak aku inginkan, begitu saja. Sangat cepat, lebih cepat dari cahaya. Bahkan aku dibuatnya tidak percaya, juga habis daya.

Sekarang aku tahu, bahwasanya kemustahilan tidak mungkin dihindari. Tidak mungkin tidak terjadi. Mungkin sebab dari lalaiku. Mungkin sebab dari kenyamananku. Mungkin dari ketidaktahuan ku mencari tahu.

Lalu, kalau kamu mau tahu aku siapa.

Aku adalah yang kamu tunggu.

 

 

EA/SK

Puan Kelana

Jingga pada sore Kelana,
pelan lelap melahap hari
yang sulit lepas dari aktivitas
Bulan sapa Kelana di jalanan
Hinggap sana hinggap sini
Ketuk saja dengan halus, siapa tahu ia tersentuh
Debam nadi terdengar sampai kelu hati
mungkin untuk kamu
Langkah Kelana meraba tujuan,
meski ada
mati rasa

Tangan Tuhan ikut campur
Bibirnya dekat dengan telinga
Semakin dekat, semakin lekat

akhir indah bukanlah kehidupan yang baru, Kelana.