Mengadu

Nyatanya, tetap ada rindu saat menyentuhmu tanpa perlu jarak

Aku ingin pulang,

aku ingin pulang,

aku hanya ingin pulang

Nyatanya, waktu tetap berkuasa tanpa ampun, beri ia nama:

pengorbanan.

Advertisements

Jika Terang Bertemu Cahaya

Dua manusia beradu punggung, kulit dan kulit sentuh tanpa sapa, gemuruh detak yang tiada.
Pikiran-pikiran hening meradang, ada rangsang dari dekat yang sungkan memilin menjelma menjadi kitab tentang keabadian.
Mereka keberadaan yang suram seperti malam dengan hujan hitam, tidak mereda tidak juga memenjarakan kelam. Begitu saja tanpa ada rasa suram. Bukankah malam selalu begitu? Memekak suara sunyi yang tak ada, menelanjangi ia tiada ampun yang awam.
Puan-puan keluar pada Sabtu dini hari, pakaian minim, suarakan intimasi. Masih ada tanah yang gembur dengan kebanyakan telah padat, dipadat-padati oleh diri kemarahan yang landai.

“Bukan itu yang kumaksud”, elakku ketika ia mendelik penuh selidik.
“Kau terlalu bertele, bisa tidak diam?”
Yang kusadari memang diam ialah senjata paling tidak lazim untuk pikiran-pikiran yang ramai.
“Mari bersenggama saja, kau takut?” bisiknya pelan.
“Senggama bukan hal yang kutakuti, tetapi bukan itu intinya.”
Suaranya merajuk, “Tetapi ini Sabtu malam….”
Peduli setan, hardikku dalam hati.
Kau tahu? Ada keranuman dari semesta yang usang ketika gelap datang? Ya, namai itu kunang-kunang. Pendarnya merasuk, tetapi ia menolak dipegang. Tulis saja beberapa cerita tentang datang tanpa sapa, juga pergi tanpa pamit, mungkin sedikit berubah jadi kenang.

Kota masih seperempat sepi, kali-kali kecil memaksa untuk ditepi, kesepian merayap pada lemah ombak semilir. Malam masih sepertiga, namun abad sudah lebih dari dua puluh cangkir kopi. Pendosa masih meraja, degub waktu masih melenggang penuh arti. Siulan jalanan seperti harapan pemimpi, riuh dengan mata-mata yang menghampar senja pada raga ketika sendiri.
Tenang, aku tidak hanya sekadar memikirkan ekor ular dengan derik. Hanya ototku yang menegang, menafikan birahi yang pelan-pelan menerjang. Ular dengan derik itu, kau tahu, tiada isinya, hanya otot-otot yang berisik ketika diusik. Aku bergidik, celutas benda asing ada pada tubuhku kurang dari sepersekian detik.

Punggung beradu punggung. Kulit bersentuh khusuk. Malam itu, ialah alam yang menjelma masam. Rasanya cukup hina dan dingin namun tanggung.
Mata yang berkedip ialah mata yang kalah. Air mata yang tidak dikehendaki adalah sejujur-jujurnya perasaan yang absah. Darah-darah yang menggenang ialah bukti lain dari masalah. Terang yang ramah ialah jalan pulang ke rumah.

Kuasa

Sejak pendar itu meradang, keluh kesah menjadi biasa
Turut datang! Turut datang! Sanksi memenja ingin empati
Bukan lagi peluh yang ada, merpati tak bersuara
Getar jari ketikan pilu, khusuk pinta upeti

Pita dipotong, pinta belas kasih pada tertodong
Ulah biasa kau saji
panas hari ini sulit diganti
Pecut saja kepalanya!
Burai-burai pikiran telanjang penuh di jalan

Yang tak Perlu

Tepat pukul lima sore aku menulis
Ceracau kata, puja puji mendamba
Menelan asa yang terbang, butir pasir pergi dari genggam
Jeda cukup lama sampai semua kalis, saat ini matahari santai seperti lupa merongrong, pikirku mengintip dari ujung kolong
Tentang bertahan hidup atau hidup untuk bertahan, pilih satu tak perlu enggan
Sekencang-kencang suara getar, bilik kaca urung gemetar
Bilang saja aku kurang,
ceracauku ialah bentuk berang
Tapi aku ingat, bukan itu sebenarnya, sebab isi berada dibalik ini.

Selamat, selamat, selamat!

Siang angkuh padanya, pada sore yang diam-diam mengulur datang demi gelas kopinya yang tiada habis sedari pagi. Lamunannya jatuh pada reka-reka kejadian yang tidak jadi terjadi, mengeja setiap satu sapa dan perpisahan lainnya. Hilang bersama asap rokok yang berlabuh diudara lepas, seperti sambut dingin yang memekak pada dada lapangnya.
Ia tak ingin pulang, masih ingin menunggu. Tulang menggretak sebab dingin yang tertahan cukup lama, lebih lama dari beban yang dipikul oleh dunia; tepat empat belas bulan lalu. Setiap pagi setelah bangun dari tidur yang tidak pasti waktunya, pundaknya terasa berat, dadanya terasa kosong; jika kau ingin berbaring disana, silakan, toh isinya pun tidak ada.
Kekosongan yang kerap kali mengisinya, membiru untuk waktu yang belum pasti kapan akan sembuh. Kau tidak bisa menyentuhnya, mungkin isi dadanya hanya asap rokok, tidak hanya kosong yang pelan-pelan membunuhnya. Panas dingin menyentuh nadi, hanya bisik yang menyebabkan ia tetap hidup; bisik dari kerabat dekatnya yang entah bagaimana tetap menyemangatinya seoerti tak kenal ampun, meskipun sudah berkali-kali ia utarakan keberatan.
Ada jejak langkah yang tidak bisa hilang sekalipun badai pasir atau badai salju menyerang jalan. Jejak yang hanya bisa ia lihat sendiri, dengan mata; pikirannya lebih tepat. Ialah jejak-jejak waktu lalu ketika perpisahan yang hanyut dalam kejut, terasa tergesa-gesa juga tiada iba. Tapi bukankah itu yang memang harus ia terima dan terjadi? Maka semua yang hilang tidak akan menjadi berat, tidak akan menjadi-jadi seperti yang sudah.
Mungkin duka sulit diemban, begitupun lukanya selalu pilu jika ditekan. Tanpa suara, tanpa denyut, hanya kayuh yang jauh pula tak akan menyambut. Tetapi suara langkahnya terus terdengar, sampai bayangnya menghilang, sampai suara hak tingginya mereda. Bunyi-bunyi yang juga hanya bisa ia yang dengar; imajinasinya melayang tinggi, berloma-lomba memenangkan pikirnya yang lain.
Itu saja. Sore yang lambat mengalah pada malam yang tergesa, yang dinginnya merayap hingga rongga-rongga kosong pada dirinya. Ucapkan selamat datang, juga selamat tinggal pada kau yang masih damai dalam reka-reka yang tidak mungkin terjadi, yang tidak juga memungkinkan terekam dalam jejak pada terjang badai.

Di-ma-na-?

Erat nyata tergenggam. Matanya teduh, pelipisnya berpeluh tuangkan hasrat dan lalu pada sepertiga malam yang dihabiskan berdua. Matanya bercerita, tentang hujan, tentang rasa, tentang cinta, tentang kehilangan, tentang bekas gincu dicangkir kopi, tentang khusuk ibadah subuh hari, tentang perjalanan, tentang bakso langganan, tentang tantangan, tentang siapapun yang ada di hadapnya, tentang yang hilang dari keingintahuannya.
Erat melebur genggamannya. Berlari kecil sulit melabuh, semakin kencang semakin jauh. Pelipisnya berpeluh. Ceritakan juang, juga sisa asa diri terguncang. Aku mengiba, seperti angin ingin kusibak rambutnya, kucium bibirnya. Disana, berdua saja.

Sedikit Ada

Aku mendapati matanya berbinar, khusuk dalam cerita. Seperti ketika ia masuk menemui aku pada masa tuanya, melalui cerobong asap rumah yang masih hangat, yang asapnya baru saja habis pelan-pelan. Bersamaan saat itu, aku melihatnya kotor berdebu hangus tanpa ada sebagian darinya tersisa. Abu-abu menempel pada seluruh badannya menjadikannya hitam–juga menyibak sisa legam yang bersarang pada punggungnya. Punggung yang selalu siap kusentuh pada akhir pertemuan, menyebabkan rasa rindu sedari Senin sampai Sabtu. Sebab Minggu adalah hari dimana aku bisa mendapatinya dirasaku.

Minggu adalah hari terakhir yang siap menyerangku, mengoyak setiap kabar yang bisa saja tak kuterima, yang setiap luruhnya matahari selalu kutunggu. Ia tersenyum kala habis waktu meraup ku—sampai jiwa dan pikiranku tak bersisa. Selalu begitu, selalu kudambakan di hari luang, meskipun tiada, selalu akan ku sempatkan. Kemudian aku harap peduli itu hilang, tentang bagaimana rupaku di dunianya, pun pada milikku. Sebab punya apa aku? Tidak, ada, kan? Semuanya kuserahkan pada ketulusan yang mungkin saja habis masanya, yang diam-diam akan hancur tanpa kuketahui.