Selamat, selamat, selamat!

Siang angkuh padanya, pada sore yang diam-diam mengulur datang demi gelas kopinya yang tiada habis sedari pagi. Lamunannya jatuh pada reka-reka kejadian yang tidak jadi terjadi, mengeja setiap satu sapa dan perpisahan lainnya. Hilang bersama asap rokok yang berlabuh diudara lepas, seperti sambut dingin yang memekak pada dada lapangnya.
Ia tak ingin pulang, masih ingin menunggu. Tulang menggretak sebab dingin yang tertahan cukup lama, lebih lama dari beban yang dipikul oleh dunia; tepat empat belas bulan lalu. Setiap pagi setelah bangun dari tidur yang tidak pasti waktunya, pundaknya terasa berat, dadanya terasa kosong; jika kau ingin berbaring disana, silakan, toh isinya pun tidak ada.
Kekosongan yang kerap kali mengisinya, membiru untuk waktu yang belum pasti kapan akan sembuh. Kau tidak bisa menyentuhnya, mungkin isi dadanya hanya asap rokok, tidak hanya kosong yang pelan-pelan membunuhnya. Panas dingin menyentuh nadi, hanya bisik yang menyebabkan ia tetap hidup; bisik dari kerabat dekatnya yang entah bagaimana tetap menyemangatinya seoerti tak kenal ampun, meskipun sudah berkali-kali ia utarakan keberatan.
Ada jejak langkah yang tidak bisa hilang sekalipun badai pasir atau badai salju menyerang jalan. Jejak yang hanya bisa ia lihat sendiri, dengan mata; pikirannya lebih tepat. Ialah jejak-jejak waktu lalu ketika perpisahan yang hanyut dalam kejut, terasa tergesa-gesa juga tiada iba. Tapi bukankah itu yang memang harus ia terima dan terjadi? Maka semua yang hilang tidak akan menjadi berat, tidak akan menjadi-jadi seperti yang sudah.
Mungkin duka sulit diemban, begitupun lukanya selalu pilu jika ditekan. Tanpa suara, tanpa denyut, hanya kayuh yang jauh pula tak akan menyambut. Tetapi suara langkahnya terus terdengar, sampai bayangnya menghilang, sampai suara hak tingginya mereda. Bunyi-bunyi yang juga hanya bisa ia yang dengar; imajinasinya melayang tinggi, berloma-lomba memenangkan pikirnya yang lain.
Itu saja. Sore yang lambat mengalah pada malam yang tergesa, yang dinginnya merayap hingga rongga-rongga kosong pada dirinya. Ucapkan selamat datang, juga selamat tinggal pada kau yang masih damai dalam reka-reka yang tidak mungkin terjadi, yang tidak juga memungkinkan terekam dalam jejak pada terjang badai.

Advertisements

Di-ma-na-?

Erat nyata tergenggam. Matanya teduh, pelipisnya berpeluh tuangkan hasrat dan lalu pada sepertiga malam yang dihabiskan berdua. Matanya bercerita, tentang hujan, tentang rasa, tentang cinta, tentang kehilangan, tentang bekas gincu dicangkir kopi, tentang khusuk ibadah subuh hari, tentang perjalanan, tentang bakso langganan, tentang tantangan, tentang siapapun yang ada di hadapnya, tentang yang hilang dari keingintahuannya.
Erat melebur genggamannya. Berlari kecil sulit melabuh, semakin kencang semakin jauh. Pelipisnya berpeluh. Ceritakan juang, juga sisa asa diri terguncang. Aku mengiba, seperti angin ingin kusibak rambutnya, kucium bibirnya. Disana, berdua saja.

Sedikit Ada

Aku mendapati matanya berbinar, khusuk dalam cerita. Seperti ketika ia masuk menemui aku pada masa tuanya, melalui cerobong asap rumah yang masih hangat, yang asapnya baru saja habis pelan-pelan. Bersamaan saat itu, aku melihatnya kotor berdebu hangus tanpa ada sebagian darinya tersisa. Abu-abu menempel pada seluruh badannya menjadikannya hitam–juga menyibak sisa legam yang bersarang pada punggungnya. Punggung yang selalu siap kusentuh pada akhir pertemuan, menyebabkan rasa rindu sedari Senin sampai Sabtu. Sebab Minggu adalah hari dimana aku bisa mendapatinya dirasaku.

Minggu adalah hari terakhir yang siap menyerangku, mengoyak setiap kabar yang bisa saja tak kuterima, yang setiap luruhnya matahari selalu kutunggu. Ia tersenyum kala habis waktu meraup ku—sampai jiwa dan pikiranku tak bersisa. Selalu begitu, selalu kudambakan di hari luang, meskipun tiada, selalu akan ku sempatkan. Kemudian aku harap peduli itu hilang, tentang bagaimana rupaku di dunianya, pun pada milikku. Sebab punya apa aku? Tidak, ada, kan? Semuanya kuserahkan pada ketulusan yang mungkin saja habis masanya, yang diam-diam akan hancur tanpa kuketahui.

Mono-Lana

Punggung itu simpan kisah
pada lalu lalang kota besar juga damai yang padat tanpa ada jengat
Rupa-rupa hidup terbuai disana, tempat palung diri terberai bersama dengan hangatnya
Lalu aku hidup, kembali untuk yang sama meski bahayanya selalu menyapa, ruam-ruam takdir dicipta entah untuk apa
Malam ini sekian kali, kala hati dibelai dengan khusyuk sayup-sayup desaunya merajuk
Bisa apa aku ini? Kalau menolak saja aku enggan. Jangan tanya sebab tahu jawabnya
Maka kubiarkan saja asanya menghardik, tetap tenang diam tiada bergidik
Sebab aku sangat letih, namun kembali pulih
Kini aku pulang, pada punggungnya, dadanya, hatinya, peluknya
Tualang Kelana kuharap usai disini
Selamanya.

Ku Curi Kamu Sore itu

Sore masih pagi kala itu. Ketika tupai melompat-lompat girang mendapat makanan ringan. Ketika angin masih ribut sunyi suara deburnya. Ketika rasa melembut lebih halus dari biasanya.

Mata sulit terbuka. Rengkuh dan lenguh ada pada kita. Tiada yang agung-agungkan diri. Tiada yang paling berkuasa! Semua rata tanpa ada sentilan kacau pada suasana. Siapa yang bisa terka? Tapi biasakan jangan, sebabnya ada luka.

Hangat bisikanmu. Tandakan bahaya juga sayang. Nasib adalah yang kita cipta. Tuhan tersenyum diam-diam. Aku tahu Ia pasti begitu! Terimakasih, Tuhan! Sahutku dalam hati, suaranya lembut tanpa ada yang dengar. Lalu begitu lah, Tuhan tersenyum diam-diam. Aku tahu Ia senang. 

Kami bersembunyi dalam ketiak waktu. Semesta adalah mediumnya. Tiada yang tahu kelak hanya kami yang rasa. Semalaman egoku terguncang, seharian perasaanku tak karuan. Tapi tiada tangis yang menyapa, tiada bulir hujan jatuh pada apa. Dan terjadilah! Begitu kata Tuhan.

Dan, ada kamu di pelupuk mataku.
Tanpa durja, tanpa sendu kelu.
Aku bersembunyi pada dadanya sore itu.
EA/SK